Thursday, May 7, 2009

Mezbah Keluarga


MEZBAH KELUARGA


“ Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" ( Yosua 24:15 )


Bangsa Israel sudah berhasil memasuki negri Kanaan yang dijanjikan Allah. Atas keberhasilan ini mereka mulai melupakan Tuhan,Allah Yahweh yang telah memimpin dan memberkati mereka. Dalam prakteknya, mereka terjatuh dalam godaan untuk menyembah kepada “ilah (allah) orang Mesir” yang pernah disembah nenek moyang mereka atau kepada “allah orang Amori” yang disembah oleh rakyat lokal. Dalam persimpangan iman itulah, Yosua menghimbau mereka kembali beribadah kepada Allah Yahweh, namun Yosua tidak memaksakan kehendaknya. Dia menghargai “kehendak bebas” orang Israel sama seperti Allah menghargainya. Namun sebagai pemimpin umat, Yosua mengumumkan tekadnya dengan tegas tanpa kompromi.

Perhatikan kalimat terakhir..” kami akan beribadah kepada TUHAN !”. Itu tekad Yosua dan seisi keluarganya. Ayat di atas diucapkan oleh Yosua di depan seluruh rakyat Israel sebagai tekad imannya yang bulat tanpa bisa ditawar-tawar. Indahnya, sebagai seorang kepala keluarga dia tahu jelas tanggung jawabnya untuk memimpin seisi keluarganya setia beribadah kepada TUHAN yang hidup, yang sudah menyelamatkan dan memberkati hidupnya.

Setiap tahun kita merayakan “Hari Ibu” dan “Hari Ayah” ataupun “Hari Orang Tua”. Biarlah ayat di atas mengingatkan setiap orang tua untuk memimpin seisi keluarganya untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamat dan juga memimpin seisi keluarganya bertumbuh dewasa dalam iman, kebenaran, kasih dan pelayanan yang setia pula. Adalah tidak benar, kalau seorang ayah atau ibu Kristen berkata : “ Saya sih membiarkan anak-anak apa maunya. Mereka bebas memilih apakah mereka mau menjadi seorang Kristen, Islam, Budhis, atau apa saja.”

Sekilas, kelihatannya “cukup dewasa” atau “demokratis” namun sama sekali tidak bijaksana. Jika seorang ayah atau ibu tahu bahwa keselamatan dan hidup kekal hanya ada dalam Kristus, mengapa tidak bertekad memimpin anak-anaknya mengenal Kristus dan bertumbuh dalam Firman-Nya?

Sebagai orang tua, seorang ayah atau ibu bertanggung jawab atas semua kebutuhan seluruh isi keluarganya termasuk kebutuhan rohani. Sebab itu, tekad Yosua hendaklah menjadi tekad para orang tua untuk membangun keluarga yang beriman dan bertumbuh dalam Tuhan dengan setia. Salah satu cara untuk mencapainya, adalah dengan membangun mezbah keluarga ( family altar). Artinya, menyediakan waktu yang khusus secara berkala untuk beribadah bersama dalam keluarga dengan membaca Alkitab,berdoa, memuji Tuhan, dan belajar membangun relasi yang akrab secara vertikal dan horizontal.

Dalam zaman yang modern dan serba sibuk ini tampaknya membangun mezbah keluarga tidaklah gampang. Jangankan jemaat biasa, keluarga majelis, aktivis, bahkan keluarga para rohaniawan pun mengalami kesulitan mencari waktu bersama anak-anak mereka duduk bersama memikirkan Firman Tuhan dan berdoa bersama. Banyak sekali alasannya. Si kecil tidak ada waktu yang tetap, si remaja terlalu banyak kegiatan, yang muda banyak urusan pribadi, sang ayah terlalu sibuk dan lain sebagainya.

Lalu, apakah karena hal ini sulit, lalu kita stop dan putus asa untuk mencoba”? Jelas tidak! Di bawah ini ada beberapa “tips” untuk memulai mezbah keluarga yang sederhana :

  1. Jangan pakai waktu yang lama. Cukup 15 menit saja. Boleh di pagi atau malam hari.
  2. Gunakan buku “Santapan Harian”sebagai penuntun. Yang seorang baca bagian Alkitab, yang lainnya membaca renungannya. Tentunya bahan “renungan” yang lain bisa juga digunakan (seperti Renungan Harian (Our Daily Bread), Sabda Bina Umat (SBU) oleh gereja GPIB, dsb . Bisa pula bahannya diselang-seling agar ada variasi yang kreatif.
  3. Doa bersama boleh dipimpin ayah, ibu, atau bergiliran. Anggota keluarga boleh mengusulkan pokok-pokok doa. Kalau bisa, gunakan papan doa/daftar doa, sehingga dapat dicek apakah doa-doanya sudah dijawab Tuhan.
  4. Yang menjadi pemimpin adalah ayah, atau ibu (jika ayah absen). Tanyakan anak-anak jika ada sesuatu yang tidak dimengerti. Jika mengalami kesulitan, boleh tanyakan kepada hamba Tuhan. Jangan malu untuk bertanya.

Waktu untuk mezbah keluarga sangat penting dan indah. Hal ini merupakan sarana untuk membangun iman, kerohanian, pengetahuan, kasih, dan komunikasi dengan Allah dan dengan sesama anggota keuarga. Semua ini menuntut harga yang harus dibayar yaitu : kesabaran, sikap positif, dan pantang putus asa. Mari kita mulai, yuk !

No comments:

Post a Comment

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja