Tuesday, June 8, 2010

Hikmat Untuk Menerima Ketetapan Allah


Hikmat Untuk Menerima Ketetapan Allah

“Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati. Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari. Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya. Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya? Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” ( Pengkhotbah 7:8-14 )

            Pernakah saudara mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan ketika sakit, mengalami kegagalan dalam studi atau bisnis ? Sangat jarang orang mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan ketika dirinya sakit dan mengalami kegagalan, entah itu studi, pekerjaan, dll. Biasanya orang mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan ketika mereka sembuh dari sakit atau berhasil dalam studi, bisnis atau karier. Sebagai orang-orang beriman seharusnya kita menerima dengan ucapan syukur semua yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita, baik itu keberhasilan maupun kegagalan.
            Dalam pelayanannya sebagai seorang pemberita Injil, Rasul Paulus mengalami banyak kesukaran dan penderitaan. Penderitaan Paulus begitu berat sehingga membuat dirinya merasa bahwa ajalnya sudah sangat dekat. Rasul Paulus menerima penderitaannya itu sebagai bagian dari rencana Tuhan bagi dirinya. Karena itu sekalipun sangat menderita, Paulus masih mampu mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan.
  • “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” ( 2 Korintus 1:8-9 )

Ketika Allah menghendaki “sesuatu” terjadi dalam hidup kita, kita tidak bisa mengatakan kepada-Nya, “ Saya tidak mau Tuhan !” atau “Jangan Tuhan…” atau “ Saya belum siap Tuhan”.  Mau tidak mahu, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus menerimanya, sekalipun itu adalah sebuah penderitaan atau beban hidup yang sangat berat. Pengkhotbah berkata : “ Perhatikanlah pekerjaan Allah ! Siapakah yang dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya ?” ( Pengkhotbah 7:13 ). Kita tidak dapat mengubah atau membatalkan rencana Tuhan. Kita harus menerimanya sebagai sebuah realita yang tidak dapat dihindari. Maka yang harus kita lakukan adalah seperti Rasul Paulus lakukan : “Mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan”, karena percaya bahwa dibalik penderitaan, ada sukacita yang Tuhan siapkan bagi kita. Untuk itu kita harus berdoa memohon hikmat dari Tuhan.



Soli Deo Gloria

Doa : 

Bapa surgawi ajarlah kami ya Tuhan agar selalu mempercayakan-Mu dalam mengatur hidup kami. Mampukan kami untuk dapat menerima ketetapan-Mu dan rencana-Mu sehingga hidup kami sesuai dengan rencana dan kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami dan berdoa dan bersyukur kepada-Mu. Amin

Sumber :  Sabda Bina Umat ( Renungan Pagi Dan Malam ) GPIB



1 comment:

  1. Makasih buat share-nya... Gbu :-))

    ReplyDelete

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja