Thursday, March 26, 2009

Dosa Telah Menjadi Tuan Atas Manusia


DOSA TELAH MENJADI TUAN ATAS MANUSIA


PERTOBATAN menjadi sesuatu yang penting bagi manusia berdosa. Tetapi sebelum melanjutkan pembahasan, kita membicarakan dulu tentang manusia berdosa. Seperti apa atau bagaimana keadaan manusia berdosa itu? Keberdosaan telah meluluhlantakkan seluruh kehidupan manusia, sehingga dalam Roma 3 : 10-11 dikatakan “tiada seorang pun yang benar, tiada seorang pun berakal budi, tiada seorang pun yang mencari Allah....”

Kondisi manusia berdosa adalah kondisi yang terpisah dari Allah. Kondisi yang terpisah dari Allah membuat manusia hidup hanya oleh dan untuk dirinya. Sehingga ketika manusia itu diukur dari ukuran-ukuran Allah, maka tidak ada yang benar, tidak ada yang baik. Itu sebab dalam Alkitab secara konsisten dikatakan Allah-lah yang mencari kita. Kristus-lah yang datang ke dunia meninggalkan surga, bukan kita yang meninggalkan bumi datang ke surga. Bukan kita mencari Allah, tetapi Allah mencari kita. Jadi dalam hal ini kita melihat manusia berdosa tidak lagi memiliki modal apa pun dalam hidupnya, untuk mencari Allah. Dia tidak lagi mempunyai bekal apa pun untuk tampil menjadi orang yang menyenangkan Allah, karena seorang pun tidak ada yang benar. Oleh karena itu semua orang Kristen harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa yang tanpa pengharapan, namun kemu-dian ditolong oleh kasih dan karunia Allah. Bagaimana keadaan manusia berdosa? Manusia berdosa secara positif tidak lagi mampu berbuat baik. Ketika manusia berkata bahwa dia mampu berbuat baik, itu berdasarkan ukurannya. Contoh, jika di tengah malam yang gelap gulita dinyalakan sebuah lilin, maka akan muncul terang. Lalu kita simpul-kan bahwa lilin yang menyala itu memberi terang. Tetapi jika kita menyalakan lilin di bawah terik matahari apakah lilin menambah terang? Tidak! Lilin itu menyala tetapi tidak menambah terang. Api lilin itu memang panas, tetapi soal terang dia tidak berperan sama sekali. Dia ditimpa oleh besarnya terang matahari. Kalau begitu, lilin itu sebenarnya memberi terang atau tidak? Jawabnya, “ya” kalau gelap gulita, tetapi “tidak” kalau terang.

Begitulah kita dengan Tuhan. Kita merasa baik, tetapi “tidak” kalau dilihat dari kebaikan Tuhan. Kita merasa benar, namun “tidak” jika dilihat dari kebenaran Tuhan. Kita cuma baik dan benar di dalam kegelapan hidup dunia, di dalam keberdosaan manusia. Dalam pergaulan masyarakat kita punya nilai-nilai, tetapi seluruh yang kita kerjakan, seluruh yang kita punya, jika diukur berdasarkan ukuran Allah, itu jauh dari apa yang Allah tetapkan sebagai standar benar dan baik.

Kebenaran Allah

Saudara, jangan ukur dirimu dengan orang lain, tetapi dengan kebenaran Allah. Ukurlah dirimu dengan Kristus. Tetapi ingat, di dalam semangat hidupnya, manusia memang tidak mau mencari Allah. Pencarian manusia hanya untuk memuaskan dirinya, untuk membenarkan dirinya. Padahal tanpa Allah dia bukan apa-apa. Jadi, secara positif manusia tidak mampu berbuat baik. Secara positif tidak ada kekuatan untuk itu. Lalu secara negatif, manusia tidak mampu me-nolak dosa. Maka seluruh dosa yang datang menyerbu menjadi bagian dari hidupnya. Ketika ia menutupi satu tembok—katakanlah dia tidak mencuri—tetapi dia tidak bisa menghindar dari sifat iri hati, misalnya. Artinya ia tidak mampu menolak dosa.

Jadi, semua kembali diukur pada Allah. Sesuatu yang tidak tepat pada ketetapan Allah, itu sudah menjadi dosa. Nah kalau sudah begini siapa manusia yang tidak berdosa? Seluruh manusia sudah berdosa. Manusia tidak mampu menolak dosa, karena dosa telah menjadi tuan atas manusia. Karena dosa sudah menjadi majikan yang berkuasa atas hidup manusia. Dosa mempermainkan manusia. Jadi, di dalam pemahaman yang seperti inilah kita belajar membangun suatu pemahaman yang utuh, supaya kita sungguh-sungguh hidup dalam terang Tuhan.

Manusia berdosa yang tidak mampu berbuat baik, sekaligus tidak mampu menolak dosa, adalah manusia yang rusak total di hadapan Allah. Kerusakan manusia yang tanpa ampun, sangat mengerikan. Kerusakan yang karenanya wujud awal tidak bisa lagi dikenali. Kerusakan yang karenanya model awal tidak lagi bisa dikenali. Kerusakan yang karenanya, model awal tidak lagi bisa dimengerti, tidak lagi memberi ciri-ciri. Begitulah ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Ciri-ciri kesucian manusia tidak lagi ada. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka menjadi malu karena telanjang, padahal hanya mereka berdua yang ada di sana. Dosa sudah menggu-gurkan kemuliaan dan kesucian yang hidup pada mereka.

Jadi, keadaan manusia berdosa menjadi sebuah lukisan yang tidak berpengharapan, tepat seperti apa yang dikatakan Roma 3 : 12-13, “Semua orang sudah me-nyeleweng, tidak ada yang ber-guna. Kerongkongan mereka se-perti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa…” Kalaupun mereka menampilkan pola hidup yang kelihatannya terhormat, tetapi di balik semua itu ada motivasi yang tidak terkendali. Ada keinginan batin yang dalam, yang tidak mampu dikendalikan. Dosa kasar, halus, besar maupun kecil, di mata Allah tetap dosa.

Jadi saudara, manusia berdosa adalah manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Sehingga ketika pun dia menjadi baik di kemudian hari, itu hanyalah anugerah Allah: solagracia. Sebagai orang Kristen kita harus bersyukur dan mendemonstrasikan kerendahan hati, karena kita telah ditolong oleh-Nya sehingga kita berpindah dari kehidupan yang penuh keberdosaan ke hidup yang penuh kebahagiaan bersama dengan Tuhan.

Soli Deo Gloria

Doa : Bapa,,,Aku bersyukur buat anugerah dan kasih karunia-Mu. Aku yang sudah terkutuk dan binasa,dari kekuasaan iblis,dari maut dan kerajaan maut, buta dan sesat serta terjual habis kepada dosa. Aku yang sudah dijatuhi hukuman kekal tidak ada pertolongan bagiku. Tetapi oleh karena kasih-Mu TUHAN yang tiada terukur dan tiada terselami, Engkau rela datang dari surga yang mulia. Dan oleh karena penderitaan dan kematian-Mu yang tidak bersalah Tuhan ,Engkau disalibkan, mati dan dibangkitkan. Dan darah-Mu tercurah melepaskanku dari cengkraman neraka, dan menarik Aku kembali kepada Allah sehingga aku berada dalam perlindungan-Mu, anugerah-Mu dan rahmat-Mu..ya..Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus aku bersyukur kepada-Mu. AMIN

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

No comments:

Post a Comment

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja