Sunday, October 18, 2009

Melewati Lembah Kekelaman


MELEWATI LEMBAH KEKELAMAN


“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” ( Mazmur 23:4 )


Daud adalah seorang gembala. Dalam Mazmur ini Daud menempatkan dirinya dalam tempat domba. Dia melihat dirinya sebagai seekor domba di bawah naungan Gembala Agung. Dia memasuki lembah itu tanpa takut karena alasan yang di luar kemampuan : “ Gembala itu terus bersama dia. Dia mempercayakan dirinya di bawah asuhan dan perlindungan Gembala itu. Domba itu menemukan kenyamanan dalam senjata Gembala itu yaitu gada dan tongkat. Gembala di zaman dulu dipersenjatai. Dia akan mempergunakan lekukan di bagian atas tongkatnya untuk menyelamatkan seekor domba yang jatuh ke lubang. Dia akan mempergunakan lekukan di bagian atas tongkatnya untuk menyelamatkan seekor domba yang jatuh ke lubang. Dia akan mempergunakan gadanya terhadap binatang buas yang berusaha menerkam dombanya. Tanpa gembala, domba-domba itu tidak berdaya dalam lembah kekelaman. Tetapi, sepanjang gembala itu hadir maka domba itu tidak takut tentang apapun.

Jika seekor beruang atau singa menyerang gembala itu dan menewaskannya, maka domba-domba itu akan berpencar. Mereka akan rapuh terhadap cengkraman taring-taring singa. Jika gembala itu jatuh, semua domba itu bisa musnah.

Tetapi, kita memiliki Gembala yang tidak akan jatuh. Kita memiliki Gembala yang tidak akan tewas. Dia bukan gembala yang akan meninggalkan ternaknya pada saat adanya kesulitan. Gembala kita dipersenjatai dengan tenaga yang Mahakuat. Dia tidak terancam oleh lembah kekelaman. Dia yang menciptakan lembah itu. Dia pula yang menyelamatkan lembah itu.

Keyakinan Daud berakar dalam kepastian mutlak tentang kehadiran Allah. Dia mengerti bahwa dengan suatu panggilan Ilahi maka datanglah bantuan Ilahi dan janji yang mutlak tentang kehadiran Ilahi. Allah tidak akan mengirimkan kita ke suatu tempat ke mana Dia sendiri tidak ingin pergi.

Kehadiran Allah merupakan suatu tempat perlindungan kita dan kekuatan kita dalam saat-saat kesulitan. Janjinya bukan hanya bersama kita di lembah kekelaman. Bahkan yang lebih penting adalah janji-Nya akan apa yang terdapat di balik lembah itu. Lembah kekelaman kematian itu bukan sebuah jurang buntu. Lembah itu tidak berujung. Lembah itu merupakan suatu jalan terusan menuju sebuah negeri yang lebih baik. Lembah itu adalah lembah kehidupan, kehidupan yang jauh lebih berlimpah dari apapun yang bisa kita bayangkan. Tujuan pekerjaan kita adalah sorga. Tapi, tidak ada jalan ke sorga tanpa melalui lembah itu ( lembah kematian ).

Daud juga memahami itu. Walau dia hidup sebelum Kristus, sebelum Kebangkitan, sebelum Wahyu kemuliaan Perjanjian Baru, kenyataannya Allah tidak diam dalam masalah itu. Di sana sudah ada harapan akan jadi anggota keluarga Abraham. Daud mengakui imannya dengan mengatakan :

“ Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! ( Mazmur 27:13 )

Allah Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Allah orang-orang yang hidup. Allah Daud yaitu Allah Israel adalah Allah orang-orang yang hidup. Allah yang kita sembah dan kita kenal di dalam Yesus adalah Allah Tritunggal yaitu Allah orang-orang hidup.Ada kehidupan di balik lembah kematian.

Bapak saya mengikuti perlombaan iman karena Allah memanggilnya untuk mengikuti perlombaan itu. Dia menyelesaikan perlombaannya karena Allah bersama dia melewati setiap rintangan. Dia mengakhiri hidupnya dengan memelihara iman. Bapak saya menderita sakit selama 13 tahun. Selama hidupnya sebagai seorang pengajar di Universitas pada Fakultas Sastra Inggris, ada tawaran agar dia meninggalkan iman percayanya kepada Kristus dan beralih ke Islam dengan imbalan mendapat jabatan yang tinggi di Universitas Islam. Tetapi dia menolak semua itu dan sampai akhir hidupnya imannya tetap kepada Tuhan Yesus. Setelah beberapa hari bapak saya meninggal dan dikuburkan, Allah memberi vision (penglihatan) dalam mimpi kepada adik saya yang paling kecil dan dia menceritakan mimpi (penglihatan) itu kepada saya, bagaimana para malaikat Tuhan menjaga dan melindungi bapak kami serta membawanya ke sorga. Dalam penglihatan yang nyata itu ada banyak malaikat-malaikat yang besar berjubah putih bersinar yang sayapnya berkepak-kepak mengelilingi bapak saya. Dan bapak saya dalam penglihatan mimpi itu sudah sehat, wajahnya bersinar, penuh kemuliaan, sukacita dan memakai jubah putih dan dikawal dan dikelilingi malaikat.

Ini merupakan warisan yang penuh kekuatan, warisan yang diberikan Kristus yang bangkit pada kita domba-domba-Nya.


Soli Deo Gloria

Saturday, September 19, 2009

Kasih Karunia Allah Dan Karunia-Nya Lebih Besar Dari Pelanggaran Adam Oleh Karena Yesus Kristus


KASIH KARUNIA ALLAH DAN KARUNIA-NYA LEBIH BESAR DARI PELANGGARAN ADAM OLEH KARENA YESUS KRISTUS


“Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus” ( Roma 5 :15-17 )


Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Rasul Paulus terlebih dahulu menonjolkan perbedaan antara Adam dan Kristus, karena ia ingin mencegah salah paham mengenai kesamaan yang memang ada. Persamaannya : Bahwa dua-duanya menjadi pelopor seluruh umat manusia, sehingga perbuatannya membawa akibat yang jauh bagi semua orang ( Kesamaan itu diungkapkan pada Roma 15:8 ). Perbedaannya : Bahwa Adam tidak menjadi gambaran Kristus dengan cara yang sama seperti Musa dan Raja Daud.

Kalimat pertama dalam Roma 5:15 menyatakan adanya perbedaan antara Adam dan Kristus, yaitu antara perbuatan masing-masing dan dengan demikian antara akibat perbuatan itu. Perbuatan Adam ialah pelanggaran, dosa pertama dalam Firdaus, yang telah mencelakakan seluruh keturunannya ( Bdk. Roma 5:12-14). Sebaliknya, perbuatan Kristus ( yang memperlihatkan rahmat Allah) ialah penganugerahan karunia.

Sesungguhnya, perbandingan ini tidak berjalan sesuai dengan logika manusia. Sebab, menurut penalaran yang wajar, lawan “pelanggaran” ialah “ketaatan”. Tetapi kalau di sini “ karunia” menggantikan “ ketaatan” yang menjadi lawan “pelanggaran”, yang mana hal itu memang bermakna. Sebab dalam berbuat pelanggaran, manusia memang aktif ( pelaku pelanggaran ). Tetapi karunia Allah tidak dapat dikerjakan atau dihasilkan oleh manusia. Manusia hanya dapat menerima dan mempercayainya.

Lalu dalam teologianya kepada jemaat di Roma Rasul Paulus membuka kalimat dengan kata “sebab” yang menjelaskan lebih lanjut perbedaan antara “ pelanggaran Adam” dan “penganugerahan karunia” oleh Kristus ( Bdk. Roma 5:15 ). Dalam Roma 5:15 ini perbedaan tersebut dipandang dari sudut efektivitas atau keampuhan perbuatan masing-masing. Jauh lebih besar keampuhan perbuatan Kristus. Kita mungkin dapat bertanya : “ Dimanakah letaknya “ yang lebih besar “ itu ? Jawab : Letaknya bukanlah dalam luasnya dampak perbuatan itu. Sebab, perbuatan Adam dan perbuatan Kristus membawa akibat yang sama – sama meliputi seluruh umat manusia. Kelebihan perbuatan Kristus dinyatakan oleh kata kerja “ berlimpah”. Dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani, Eperisseusen = “berlimpah” , memakai bentuk aoristus, sehingga menujukkan peristiwa masa lampau. Mengingat tambahan “ oleh anugerah Yesus Kristus” kita harus menghubungkan “berlimpah” itu dengan peristiwa-peristiwa yang telah memuncak dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kematian dan kebangkitan itulah yang mencetuskan kasih karunia yang begitu besar. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI ) menjadikan “ Allah” sebagai subyek eperisseusen (berlimpah), sehingga terjemahannya menjadi “dilimpahkan-Nya “. Sebaliknya, dalam bahasa Yunani “karunia” yang menjadi subyeknya. Karunia itulah yang berlimpah, bagaikan sungai yang menghanyutkan dosa dan maut.

Rahmat Allah di dalam Kristus jauh lebih kuat daripada dosa dan maut, sehingga mengatasi seluruh perlawanan. Rahmat itu bagaikan sungai besar, yaitu sungai kehidupan, yang mengalir ke seluruh umat manusia untuk membersihkannya dari akibat-akibat dosa. ( Bdk Roma 5:12 ) Dosa dan maut seakan-akan dihanyutkan oleh sungai itu. Sebab bukan ketaatan ( perbuatan amal) manusia yang taat yang “lebih besar” ( lebih besar dampaknya) daripada pelanggaran Adam, melainkan kasih karunia Allah..

Dalam Roma 5:15, Rasul Paulus telah berbicara tentang kelimpahan karunia. Dan dalam Roma 5:16, ia menyebutkan pembenaran sebagai karunia Allah yang berlimpah-limpah itu. Dalam Roma 5:17 kedua perkataan kunci dari Roma 5:15 dan Roma 5:16 kembali dipakai Paulus, yaitu kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran ( artinya sama dengan pembenaran ). Maka dalam Roma 5:16, Rasul Paulus menarik kesimpulan yaitu menggambarkan kemuliaan yang akan diwarisi mereka yang telah menerima karunia dan anugerah kebenaran yang berlimpah-limpah itu.

Merenungkan hal itu, membuat kita menyadari begitu besar makna pengorbanan Kristus di atas kayu salib bagi status manusia di hadapan Allah. Maka seharusnyalah kita, yang telah menerima anugerah kebenaran dan kelimpahan kasih karunia Allah oleh Yesus Kristus, hidup dengan menikmati seluruh kekayaan berkat itu. Jangan pernah mau undur dari iman yang telah Anda nyatakan, karena Tuhan pasti akan menguatkan. Ingatlah bahwa kemenangan iman kita akan dinyatakan kelak dan kita akan menikmati kemuliaan sebagai anak-anak Allah.


Soli Deo Gloria



LAGU PUJIAN

GB 89 : No.1 Dan No. 2


TUHAN YESUS SAHABATKU


1 Tuhan Yesus sahabatku, tercinta dan erat.

Melebihi segalanya bagiku.

Bunga Bakung paling indah yang tumbuh di lembah.

Mengampuni, menyucikan diriku.

Penghibur dalam duka, Penolong yang teguh.

Kepada-Nya kuserahkan kuatirku.

Bunga Bakung paling indah yang tumbuh di lembah.

Melebihi segalanya bagiku.


2. Ia takkan membiarkan dan meninggalkanku.

Aku hidup oleh iman kepada-Nya.

Ia tembok yang berapi di sekelilingku.

Roti Hidup yang membuatku kenyang.

Kelak di kemuliaan ku pandang wajah-Nya.

Dan berkat sorgawi melimpahiku.

Bunga Bakung paling indah yang tumbuh di lembah.

Melebihi segalanya bagiku.


Thursday, August 20, 2009

Akhir Dari Kekayaan Tetapi Tanpa Tuhan


AKHIR DARI KEKAYAAN TETAPI TANPA TUHAN


“Datanglah firman TUHAN kepadaku: "Hai engkau anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai Tirus, dan katakanlah kepada Tirus, yang terletak di pintu masuk lautan, dan yang berdagang dengan bangsa-bangsa di banyak daerah pesisir: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai Tirus, engkau berkata: aku kapal yang maha indah. Wilayahmu di tengah lautan; ahli bangunmu membuat keindahanmu sempurna.

Seluruh badanmu mereka buat dari kayu sanobar Senir, mereka mengambil aras Libanon membuat bagimu tiang layar. Pohon tarbantin dari Basan dipakai untuk dayungmu; geladakmu mereka buat dari tulang gading ditatahkan di cemara dari pantai Kitim. Layarmu diperbuat dari lenan halus yang berwarna-warni dari tanah Mesir; itulah tandamu. Dan tendamu diperbuat dari kain ungu tua dan kain ungu muda dari pantai Elisa. Orang Sidon dan Arwad menjadi pendayungmu; tukang-tukangmu, hai Tirus, berada padamu, mereka menjadi pelaut-pelautmu. Tua-tua Gebal dengan ahli-ahlinya berada padamu hendak memperbaiki kerusakan-kerusakanmu. Segala kapal laut beserta anak kapalnya berlabuh padamu hendak menukarkan barang dagangannya. Orang Persia, Lud dan Put, yang menjadi prajuritmu ada dalam ketenteraanmu. Perisai dan ketopong digantungkan padamu; mereka menambah semarakmu. Orang Arwad dan tentaranya memanjat di atas tembok-tembokmu sekeliling dan orang Gamad di atas menara-menaramu; mereka menggantungkan perisai-perisainya pada tembok-tembokmu sekeliling, mereka membuat keindahanmu sempurna. Tarsis berdagang dengan engkau dalam segala macam harta yang banyak; mereka menukarkan perak, besi, timah putih dan timah hitam ganti barang-barangmu. Yawan, Tubal dan Mesekh berdagang dengan engkau; mereka menukarkan budak-budak, barang-barang tembaga ganti barang-barang daganganmu. Dari Bet-Togarma mereka menukarkan kuda kereta, kuda tunggang dan bagal ganti barang-barangmu. Orang Rodos berdagang dengan engkau, banyak daerah pesisir menjadi daerah pasaranmu; mereka membawa kepadamu tulang gading dan kayu arang sebagai upeti. Edom berdagang dengan engkau karena banyaknya hasil-hasilmu; mereka menukarkan permata batu darah, kain ungu muda, pakaian berwarna-warna, kain lenan halus, karang dan batu delima ganti barang-barangmu.Yuda dan tanah Israel berdagang dengan engkau; mereka menukarkan gandum dari Minit, mur, madu, minyak dan balsam ganti barang-barang daganganmu.Damsyik berdagang dengan engkau karena banyaknya hasil-hasilmu, karena segala macam barangmu yang banyak. Anggur dari Helbon, bulu domba dari Sakhar, dan anggur ditukarkan mereka ganti barang-barangmu; besi yang sudah dikerjakan dari Uzal, kayu teja dan tebu ada di antara barang-barang daganganmu.Dedan berdagang dengan engkau dalam kulit pelana untuk menunggang kuda.Arab dan semua pemuka Kedar berdagang dengan engkau dalam anak domba, domba jantan dan kambing jantan; dalam hal-hal itulah mereka berdagang dengan engkau.Pedagang Syeba dan Raema berdagang dengan engkau; mereka menukarkan yang terbaik dari segala rempah-rempah dan segala batu permata yang mahal-mahal dan emas ganti barang-barangmu.Haran, Kane, Eden, Asyur dan Kilmad berdagang dengan engkau.Mereka berdagang di pasar-pasarmu dalam jubah-jubah yang maha indah, kain ungu tua, pakaian yang berwarna-warni, permadani yang beraneka warna dan tali berpilin yang teguh.Kapal-kapal Tarsis membawa barang-barang dagangan ini bagimu. Penuh dengan muatan berat engkau di tengah lautan” ( Yehezkiel 27:1-25 )


Apakah salah jikalau kita menjadi kaya? Apakah Tuhan membenci orang kaya? Di Alkitab banyak dicatat orang kaya yang disayang Tuhan dan yang mengasihi Tuhan. Misalnya Abraham, perempuan Sunem ( 2 Raj 4:8 ), Raja Daud, Raja Salomo, dan Ayub.

Tirus juga kaya, bahkan kaya raya. Suatu kota pelabuhan perdagangan yang kaya raya, makmur dan dihormati bangsa-bangsa sekitarnya. Renungan kita memaparkan relasi perdagangan antara Tirus dengan kota-kota lain. Memang kekayaan Tirus sangat terkenal dan dikagumi. Kapal-kapal Tirus terkenal dengan keindahan, kemegahan, dan kekuatannya karena terbuat dari bahan kayu pilihan milik mereka sendiri ( Yeh 27:5-7 ). Bahkan bangsa-bangsa lain termasuk Israel mengimpor kayu-kayu Tirus ke negri mereka untuk membangun rumah-rumah dan istana termasuk rumah ibadah mereka yaitu bait Allah ( 2 Raja 5 ). Namun sungguh tragis dan mengerikan akhir dari kehidupan kota itu. Tirus harus tenggelam ke dalam laut ( Yeh 27:27,34), hingga lenyap selamanya ( Yeh 27:36). Inilah akibat dari satu kota yang kaya, tetapi tidak mengenal Tuhan. Tidak mengenal Tuhan itulah kuncinya. Tidak mengenal Tuhan mengakibatkan seseorang menganggap bahwa segala sesuatu berpusat pada diri sendiri. Kekayaan yang diperoleh tidak dilihat sebagai anugerah Tuhan, tetapi semata-mata hasil usaha sendiri. Maka lahirlah kesombongan. Itulah yang terjadi pada Tirus. Ia sombong karena merasa kekayaannya adalah miliknya dan segala-galanya baginya. Dia tidak tahu bahwa TUHAN-lah yang empunya langit dan bumi dunia dan segala isinya dan semua yang ada di dalamnya ( Bdk. Mazmur 24). Kekayaan Tirus menjadi berhala baginya.

Rasul Paulus menulis surat penggembalaannya kepada Timotius anak rohaninya untuk disampaikan kepada jemaat. Dia berkata : “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” ( 1 Timotius 6:17 ).

Tuhan tidak menghalangi orang memiliki banyak harta. Tuhan juga tidak melarang anak-anak-Nya untuk bekerja keras dan kemudian menjadi kaya-raya. Tuhan hanya mau mengingatkan kita bahwa kekayaan itu adalah berkat dan anugerah-Nya semata (common grace), dan Dialah sumber kekayaan itu, sumber berkat materi dan kasih karunia yang tak habis-habisnya. Sehingga Tuhan tidak ingin bila kekayaan membuat orang lupa akan pemeliharaan-Nya. Saat kekayaan menjadi segala-galanya, ia menjadi berhala. Kehancuran Tirus menjadi pelajaran berarti bagi kita. Mengingatkan dan mengarahkan agar kita tidak menjadi angkuh dan lupa daratan karena segala sesuatu yang kita miliki. Muliakanlah Tuhan dengan apa yang ada pada kita.

Akhir dari renungan ini marilah kita membaca dan merenungkan ayat firman TUHAN di bawah ini :


“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu..” ( Amsal 3:9 )


Soli Deo Gloria.

Thursday, August 6, 2009

Kesetiaan Allah Tidak Pernah Berubah


KESETIAAN ALLAH TIDAK PERNAH BERUBAH


“Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN.Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? firman Allahmu.Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali.Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau. Hai yang tertindas, yang dilanggar angin badai, yang tidak dihiburkan! Sesungguhnya, Aku akan meletakkan alasmu dari batu hitam dan dasar-dasarmu dari batu nilam.Aku akan membuat kemuncak-kemuncak tembokmu dari batu delima, pintu-pintu gerbangmu dari batu manikam merah dan segenap tembok perbatasanmu dari batu permata.Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka; engkau akan ditegakkan di atas kebenaran. Engkau akan jauh dari pemerasan, sebab engkau tidak usah lagi takut, dan engkau akan jauh dari kekejutan, sebab ia tidak akan mendekat kepadamu.Apabila orang menyerbu, itu bukanlah dari pada-Ku; siapa pun yang menyerbu engkau, ia akan rebah melawan engkau.Sesungguhnya, Akulah yang menciptakan tukang besi yang menghembus api dan menghasilkan senjata menurut kecakapannya, tetapi Akulah juga yang menciptakan pemusnah untuk merusakkannya.Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN” .

( Yesaya 54:1-17).


Relasi seperti apakah yang sering dipakai Alkitab untuk menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya ? Relasi suami - istri. Allah digambarkan sebagai suami yang setia bagi Israel, istri yang tidak setia. Dalam gereja kristen Perjanjian Baru, hubungan ini juga digambarkan/dilambangkan antara Kristus dan jemaat-Nya seperti seorang suami dengan istrinya ( Bdk Efesus 5:22-33). Ketidaksetiaan Israel tidak membatalkan perjanjian kasih Allah kepada umat-Nya ( Yes :54: 7-10 , Roma 11:1-36 ).

Pada nats Firman Tuhan dalam Yesaya 54 ini dibuka dengan seruan janji keselamatan : “Janganlah takut” ( Yes 54:4). Israel tidak akan mendapat malu lagi tentang keaiban masa lalu mereka.Ada dua periode sejarah Israel yang diungkapkan disini.

  • Pertama : Saat Israel di Mesir sebagai budak, digambarkan sebagai masa “keremajaan”. Tuhan sudah membebaskan Israel dari perbudakan itu dengan menjadikannya istri yang sah, yang diikat oleh Perjanjian Sinai ( Bdk kel 19:4-6).
  • Kedua : Pembuangan ke Babel, sebagai masa “menjanda”. Tuhan menolak Israel yang berzina rohani dengan dewa-dewi kafir. Namun sekali lagi Tuhan bertindak oleh kesetiaan-Nya pada perjanjian Sinai tersebut ( Yes 54:8 ).

Sebagai suami untuk umat-Nya, Allah bertindak menebus istrinya ( Yes 54:7). Pemulihan itu berarti umat Israel memperoleh kembali hak dan kewajibannya sebagai umat Allah ( Yes 54:1-3). Mereka akan kembali ke Tanah Perjanjian dan berkembang kembali menjadi bangsa yang besar. Mereka akan bangga menyatakan diri sebagai umat Allah sebab Sang Penebus adalah Allah yang berkuasa atas bangsa-bangsa. Israel akan dibangun dari kebenaran Allah. Perjanjian damai ini memang diikrarkan dengan Israel, tetapi melalui umat ini (umat Israel, keturunan Abraham, Ishak dan Yakub) juga terbuka berkat keselamatan kepada bangsa-bangsa kafir (diluar umat Israel) melalui penebusan Kristus yaitu umat manusia seluruhnya di dunia ini, sebagaimana janji TUHAN Yahweh kepada Abraham :” Oleh keturunanmulah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat….”( Kej 22:18 ).

Seperti pada masa Nuh, Tuhan sudah bersumpah tidak akan ada lagi air bah. Seperti kesetiaan Tuhan tidak berubah atas umat-Nya di masa lalu, demikian pula di masa sekarang ( Yes 54:10). Kita memiliki Kristus Yesus yang sudah menerima cawan murka Allah atas dosa, kejahatan, kesesatan, pembrontakan, kefasikan dan kesalahan kita dan telah membayarnya lunas oleh kematian-Nya di atas kayu salib ( Bdk. Yes 53, 1 Kor 6 : 20, 1 Pet 1:18-19 ). Kita yang percaya kepada Kristus akan menerima belas kasih dan ampunan serta dihisapkan kembali menjadi milik kekasih hati Allah. Mari kita jalani hidup ini sebagai umat yang yang telah ditebus oleh darah-Nya , menghormati dan melayani Dia yaitu Tuhan Yesus Kristus Juruselamat dan kekasih jiwa kita dengan sepenuh hati.


Thursday, July 16, 2009

Roh Kudus "Penolong Kita Dalam Doa "


ROH KUDUS “PENOLONG KITA DALAM DOA


“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” ( Roma 8 : 26-27 )


Indah sekali, Roh Kudus yang Allah Bapa anugerahkan kepada kita melalui Yesus Kristus setelah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, bukan saja berperan sebagai Penghibur yang setia dan yang menguatkan orang-orang percaya, namun Firman Allah juga memberitahukan kita bahwa Roh Kudus juga berperan sebagai Penolong dalam doa-doa kita.

Sebagaimana kita (dan juga segala mahluk) mengeluh, demikian juga Roh Kudus. Tetapi Roh itu tidak hanya mengeluh bersama kita tetapi Ia juga sebagai Penolong kita sebagai Pengantara doa-doa kita kepada Allah. Peranan-Nya jauh lebih penting, sebab tanpa perantaraan-Nya tidak mungkin kita “mengeluh” mendoakan kedatangan dunia baru. Dunia yang kita harapkan itu tidak kita lihat ( Bdk Roma 8:24-25 ), sehingga kita tidak tahu bagaimana bentuk dan keadaannya. Sudah tentu sebagai orang percaya kita mengenal istilah “ pembebasan”, “penyelamatan”, “kemuliaan”. Tetapi tidak mungkin kita membayangkan kenyataan yang ditandai oleh istilah-istilah itu ( Bdk 1 Kor 2:9). Itulah kelemahan kita. Kelemahan itu bukanlah kekurangan perhatian dalam berdoa, kurang khusuknya dan khidmatnya kita, melainkan ketidakmampuan kita menyatakan keinginan kita dengan kata-kata yang memadai.Padahal, itulah cara yang sebenarnya harus dipakai dalam berdoa. Kata-kata kita harus sesuai dengan kemuliaan Allah, dengan kebesaran keselamatan yang dianugerahkan-Nya. Berdoa kepada Allah “ sebenarnya harus” dalam kata-kata Ilahi ( Roma 8:27 ). Tetapi kita tidak mampu, kita daging saja. Lagi pula, kata-kata kita dinodai dosa. Maka kita memerlukan Pengantara.

Pengantara itu ialah Roh Kudus, yang tinggal di dalam kita ( Bdk Roma 28:11). Disini tampaklah salah satu segi kegiatan Roh dalam diri kita, yaitu menjadi Pengantara ( bdk Yoh 14:16). Roh Kudus juga Penolong kita dalam perjuangan kita melawan dosa dan Penolong kita dalam upaya menempuh kehidupan baru. Dia juga yang mendorong orang percaya berkumpul menjadi jemaat (gereja/persekutuan orang percaya).Yang diungkapkan di sini ialah bahwa Roh Kudus, yang diam didalam diri kita, berdoa untuk kita kepada Allah. Dia melakukan bagi kita apa yang tidak mampu kita lakukan. Dengan demikian Roh Kudus melakukan di dalam hati kita apa yang dilakukan Kristus ditakhta Allah ( Bdk Roma 8:34 : Kristus sebagai Pengantara dan Pembela kita disorga ).

Roh berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan yang artinya : Roh menyambut keluhan kita dan menyalin-Nya ke dalam bentuk yang “sesuai dengan kehendak Allah” sehingga layak didengarkan Tuhan. Oleh sebagian orang, ayat Firman Tuhan diatas telah disalahtafsirkan sebagai karunia berbahasa roh/berbahasa lidah ( Yunani : “glosolalia” ). Sejak zaman Gereja Lama ( Origenes, Chrysostomus) ada penafsir yang mengartikan “ keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” sebagai teriakan-teriakan ekstasis( bahasa lidah/glosolalia) yang disebut dalam 1 Kor 14. Menurut tafsiran itu, teriakan tersebut merupakan keluhan Roh dalam kita, melalui mulut manusia. Akan tetapi penafsiran tersebut tidaklah Alkitabiah dengan alasan sebagai berikut :


  1. Bahasa lidah dalam 1 Kor 14 merupakan perkataan manusia, sedangkan di sini keluhan berasal dari Roh Kudus sendiri.
  2. Keluhan-keluhan yang disambut dan disalin Roh disini ialah rintihan orang percaya mengenai keadaan mereka yang terdesak penderitaan, tekanan, kesusahan ( Bdk Roma 8 : 18), sedangkan bahasa lidah dalam 1 Korintus 14 pada pokoknya merupakan puji-pujian.
  3. Dalam 1 Korintus 14 bahasa lidah disebut kurang penting daripada berbagai karunia lain. Tidak layak kiranya kalau kita katakan bahwa keluhan-keluhan Roh dalam Roma 8:26 kurang penting.
  4. Dalam 1 Kor 14 anggota jemaat diajak menerjemahkan bahasa lidah ke dalam bahasa manusia ( Bdk 1 Kor 14:15-19). Sedangkan keluhan-keluhan Roh justru tidak dapat diucapkan manusia.

Allah memahami maksud Roh, sebab Roh menyampaikan keluhan manusia kepada Tuhan dengan cara yang sesuai dengan ( hakikat) Allah, dengan cara Ilahi, dalam bahasa “ Ilahi”, yang memadai di hadapan Tuhan. Dengan demikian Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita selamanya, juga menolong kita sebagai Pengantara doa kita kepada Allah. Puji Tuhan ! Dalam kelemahan, pencobaan, penderitaan, ujian dan tantangan yang berat, kita tidak sendiri. Roh Kudus menjadi Penolong kita. Karena Dia adalah Pendoa syafaat bagi orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi.

Apakah saudara sulit berdoa ? Mintalah Roh Kudus menyampaikan isi hatimu kepada Allah. Jangan kecewa. Allah pasti menjawabmu !.


Soli Deo Gloria.

Saturday, July 11, 2009

Tuhan Yang Menyediakan


TUHAN YANG MENYEDIAKAN


“Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir. Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari."Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: "Petang ini kamu akan mengetahui bahwa TUHANlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir. Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?" Lagi kata Musa: "Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya -- apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN." Kata Musa kepada Harun: "Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu." Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun -- maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu." Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. Musa berkata kepada mereka: "Seorang pun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi."Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka. Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.( Keluaran 16:1-21)


Bagaimana agar kita tidak kehilangan sukacita dan damai sejahtera saat krisis menerpa hidup dan masa depan seakan gelap ? Mungkin kita tengah mengalami krisis keuangan atau ancaman PHK di ambang pintu ? Dalam saat krisis seperti itu, berpalinglah kepada Tuhan dan ingatlah kebaikan yang pernah Dia nyatakan dalam Alkitab dan yang juga telah Dia nyatakan dalam hidup Anda.

Mengapa umat Israel mudah sekali bersungut-sungut tatkala menghadapi sedikit situasi yang tidak mengenakkan ? Mereka lupa bahwa Tuhan telah sejak permulaan menyatakan pertolongan-Nya dengan tak henti-henti. Baik pertolongan yang menyelamatkan mereka dari rongrongan musuh, maupun dari kehausan dan kelaparan ( Bdk Kel 15:22-27). Dan kita gereja Kristen tidaklah jauh berbeda dengan umat Israel dan bahkan bisa dibilang sama. Kita juga sering sekali terlebih dahulu bersungut-sungut bila menghadapi kesulitan, pencobaan yang terjadi dalam hidup kita, bahkan kita menyalahkan Tuhan dan sering sekali mengajari Tuhan.Syukur bahwa Allah Israel adalah Allah yang panjang sabar. Walau Musa bisa bosan dan merasa dibebani dengan sungut-sungut umat ( Kel 16:6-8), Allah tetap menyatakan kasih dan kepedulian-Nya. Ia memberikan dengan limpah apa yang mereka butuhkan. Baik manna di pagi hari maupun daging di sore hari ( Kel 16:12). Alkitab menyaksikan bahwa selama 40 tahun mereka berjalan di padang gurun, mereka (umat Israel) tidak pernah kelaparan (mati kelaparan). Tentu agar mereka mendapatkan dan menikmati berkat Tuhan tersebut, ada yang mereka perlu taati dari Tuhan.

  • Pertama : Bangun pagi-pagi dan memungut manna untuk makanan mereka setiap hari.
  • Kedua : Tidak rakus melainkan mengambil secukupnya sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Ini senada dengan isi doa yang diajarkan Tuhan Yesus, “Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya” ( Mat 6:11).
  • Ketiga : percaya kepada Tuhan yang dengan ajaib akan memberkati hari keenam sehingga manna yang mereka ambil hari itu akan cukup untuk hari itu dan hari Sabat ( Kel 16:5 )

Ketidaktaatan pada pengaturan Tuhan membuat berkat berubah menjadi kutuk ( Kel 5:20). Dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus berkata kepada kita umat gembalaan-Nya : …”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10 b). Tuhan Yesus akan menyediakan kebutuhan jasmani kita sesuai dengan janji dalam Firman-Nya dan bahkan berkelimpahan. Karena jika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, pastilah Tuhan memperhatikan kebutuhan kita baik secara rohani maupun secara jasmani. Allah kita tidak akan membiarkan kita anak-anak-Nya mati kelaparan.

Respons apa yang sepatutnya kita berikan kepada Tuhan yang penuh kemurahan ? Jangan bersungut-sungut melainkan naikkan doa dan syukur kita dengan sepenuh hati kepada-Nya. Taati petunjuk firman-Nya agar kita dapat menyaksikan karya Tuhan yang luar biasa dan yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita.


Soli Deo Gloria

Doa = " Didengar Oleh Allah "


DOA = “DIDENGAR OLEH ALLAH”


“….kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita…”( 1 Kor 1:2 )


Vitalnya doa untuk kehidupan perseorangan dan persekutuan gerejawi dapat dilukiskan dengan beberapa kisah berikut ini. Pertama kisah seseorang yang waktu baru dilahirkan, tidak dapat menangis. Menurut cerita ibu orang tersebut, kondisi tersebut berlangsung sampai beberapa jam. Sungguh mencemaskan ! Namun sesudah diusahakan oleh berbagai pihak di klinik bersalin dimana ia dilahirkan akhirnya tanda kehidupan itu keluar juga. Tangisan selain merupakan tanda kehidupan juga adalah bentuk komunikasi awal dalam kehidupan manusia. Tidak heran bila ada yang menjadikan tangisan sebagai gambaran dari teriakan pertobatan di awal relasi manusia dengan Allah sebagai bukti tengah terwujudnya pembaruan hidup dalam diri seseorang. Maka wajar bila kemampuan bicara pada usia dini, menjadi juga pusat perhatian para orangtua. Saya pernah mendengar kesaksian sepasang suami istri yang begitu khawatir tentang penyakit yang di diderita istrinya. Sudah berulang kali dibawa kedokter dan diberi obat ternyata alergi ditangan sang istri tidak juga sembuh-sembuh. Bahkan penyakit yang diderita di tangannya seperti penyakit kusta ( kulit tangannya retak-retak dan nampak dagingnya) sangat menyiksa sehingga sang istri harus memakai sarung tangan untuk menyuci pakaian dan memasak makanan. Sesudah sang suami banyak mendoakannya setiap pagi selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya penyakit sang istri berangsur pulih dan sembuh sama sekali. Seperti pengalaman yang pertama, dalam pengalaman inipun kesukaan menghapuskan segala kekhawatiran sebelumnya. Tangan sang istri mulai sembuh, dan selama ini kekhawatiran akan menderita penyakit kusta telah terhapus !

Doa sesungguhnya adalah tanda luar biasa penting dari adanya kehidupan hasil karya anugerah Allah dalam kehidupan seseorang. Bagaimana pun bentuk ungkapan hati kepada Allah itu, entah berupa tangisan atau sekedar keluh kesah, atau ungkapan hati tulus yang penuh nuansa syukur dan sarat makna, hal itu penting. Penting bukan saja bagi yang bersangkutan sebagai tanda bahwa di dalam dirinya hidup dari Allah tengah beroperasi, tetapi juga penting dan menyukakan hati Allah. Apabila hati manusia meluap dengan sukacita mendengar bayi mereka menangis atau anak mereka mulai belajar menyapa : mama, papa,..dst.., lebih lagi hati Bapa surgawi kita. Waktu anak-anak-Nya menyatakan entah respons mereka kepada sabda-Nya atau membuka hidup mereka kepada-Nya, hal tersebut menyukakan hati Allah sebab merupakan suatu kejadian dimana anak-anak-Nya sedang menghargai relasi perjanjian yang telah Ia anugerahkan bagi mereka. Vitalnya berbicara tidak hanya untuk usia dini, tetapi pada segala tahapan usia. Demikian pun percakapan dengan Allah merupakan hal hakiki dalam segala tahapan kerohanian kita.

Kehidupan doa sangat penting karena hakikat Kekristenan adalah relasi. Hakikat iman bukan ajaran-ajaran moral, bukan berbagai ritual religius, bukan juga sistem dogma-dogma, meski semua itu penting dan tidak boleh diabaikan dan ada tempatnya dalam iman Kristen. Alkitab mendefenisikan kehidupan Kristen sebagai “Allah memanggil” dan orang percaya “memanggil balik Allah” sebagai respons terhadap panggilan kasih-Nya itu “ ( Bdk 1 kor 1:2). Allah adalah Allah yang dengan pelbagai macam cara berbicara kepada manusia yang adalah gambaran-Nya, dan pada akhirnya Allah berinkarnasi menjadi manusia di dalam Tuhan Yesus Kristus dan berbicara kepada manusia ciptaan-Nya ( Bdk Ibr 1:1-2). Maka doa bukan sekedar bagian dari ritual agama kristen dan karena itu tidak boleh juga kita rendahkan hanya ke tingkat kewajiban agamawi, melainkan doa adalah kenyataan dari adanya relasi yang hidup antara kita dengan Allah Yang Hidup.

Ketika kita berdoa, Allah mendengar dan Allah terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Namun ketika kita tidak berdoa, tidakkah itu berarti Allah sedang kita tempatkan di bagian tepian kehidupan kita ? Marilah tempatkan Allah di pusat sebagai pengendali seluruh aspek kehidupan kita. Kita tidak berdoa berarti kita menyangkali kedaulatan Allah dan meremehkan relasi dengan-Nya.


Soli Deo Gloria

Saturday, June 20, 2009

Syukur Dan Jujur


SYUKUR DAN JUJUR


“ Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." (Mazmur 50:23)


Istilah “Untung Ada Saya” menjadi terkenal karena difilimkan oleh bintang komedi yang ternama, Gepeng. Sebenarnya istilah tersebut adalah nafas dari filsafat “Humanisme” yang menganggap manusia adalah “ukuran” tertinggi dalam hidup ini. Manusialah yang menentukan nasibnya sendiri. Manusialah yang pantas mendapatkan segala “kredit” dalam perjalanan hidupnya.

Tidaklah heran, ada sebagian suami, atau istri, atau anak, atau “bos”, atau ilmuwan, atau pendeta, atau majelis, pengurus gereja, atau pemimpin tertentu, siapa saja, menganggap bahwa dialah yang paling berjasa atas keberhasilan yang ada. Akibatnya, secara tinggi hati dia akan berkata, entah langsung atau tidak, dengan membusungkan dadanya : “ Untung ada saya, kalau tidak, wah pastilah….”atau..” Yah, kebetulan ada saya sih, jadi….” Atau yang lebih sok akan berkata : “ Jangan macam-macam ya, kalau bukan karena saya yang berjuang, tidak ada hari ini ! “

Yang Atheis atau Agnostis mungkin akan berkata : “ Jangan katakan Tuhanmu yang melakukan ini, dan jangan terimakasih kepada Tuhan mu. Terimaksihlah kepadaku. Tahu nggak ?”

Orang-orang yang sedemikian tidak tahu berterimakasih, sebaliknya menuntut orang lain yang harus bersyukur dan berterimakasih kepadanya. Dia lupa bahwa Allahlah yang pantas menerima segala ucapan syukur dan kemuliaan dalam hidup setiap umat manusia. Oh ya, saya hampir lupa. Menurut berita, beberapa waktu kemudian, setelah Si Gepeng memainkan film “Untung Ada Saya ! “ itu, ternyata dia meninggal dunia. Kasihan !

Saudara, dalam menapaki hari-hari kita yang ada di dunia ini tentunya kita mengalami banyak hal. Ada yang mengalami sakit, kegagalan, kesedihan, kekecewaan, bahkan sempat berputus asa. Ada juga yang mengalami kesehatan yang baik, kesuksessan, dan berkat besar yang berlimpah. Inilah yang disebut dengan” roda-roda kehidupan” yang terus berputar selama kita masih diberi nafas hidup oleh Allah. Pengalaman manis, pahit, asam, asin atau getir selalu bergantian. Bagi seorang Kristen, hendaknya semua pengalaman ini diterima dengan hati yang mengucap syukur seraya terus bersandar kepada Allah. Hati yang jujur dan bersyukur merupakan dua kunci utama dalam menjalani hidup yang diberkati Tuhan. Coba kita baca, renungkan dan perhatikan firman Tuhan dalam Mazmur 50:23.

Kita percaya bahwa semua pengalaman yang kita hadapi sepanjang hidup kita sebenarnya berada di dalam “kontrol dan seijin “ Allah yang sungguh mengasihi kita. Dan Dia berjanji akan turut menambahkan “energi-Nya” di dalam setiap pengalaman tersebut untuk akhirnya mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang setia mengasihi dan taat kepada Firman-Nya ( Bdk Roma 8:28 ).

Sebab itu , marilah kita menjalani hari-hari kita dengan berbagi pengalaman yang Tuhan ijinkan itu terjadi dalam hidup kita dengan berpegang kepada dua sikap yang sangat prinsipil itu yaitu : Syukur dan Jujur !

Orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah adalah orang yang rendah hati, tahu berterimakasih, dan mengakui bahwa segala sesuatu yang berlangsung dalam hidupnya adalah anugerah dan karunia Tuhan Allah semata-mata. Bukan jasa dirinya sendiri ! Hati yang mengucap syukur juga akan menghasilkan kekuatan baru, semangat baru, dan pengharapan baru untuk menjalani setiap waktu, dan setiap keadaan dalam hidupnya.

Selanjutnya, hati yang selalu jujur di hadapan Allah dan manusia akan menghasilkan keselamatan, damai sejahtera, dan berkat besar. Inilah janji Allah bagi kita yang sudah diselamatkan-Nya, dan akan terus dipelihara-Nya hingga akhir hidup kita. Dua sikap hidup inilah yang menjadi “tanda khusus” bahwa hidup kita sungguh-sungguh memuliakan Allah dan berkenan di hati-Nya.

Sekali lagi, Saudara ingin “mujur” ? Ingatlah ! Syukur dan Jujur !


Soli Deo Gloria

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja