Sunday, May 24, 2009

The LORD is my shepherd


“The LORD is my shepherd”


A Psalm Of David


( Psalm 23 )


The LORD is my shepherd, I shall not be in want.


He makes me lie down in green pastures,


He leads me beside quiet waters, He restores my soul.


He guides me in paths of righteousness for His name’s sake.


Even though I walk trough the valley of the shadow of death,


I will fear no evil, for You are with me ;


Your rod and Your staff, they comfort me.


You prepare a table before me


in the presence of my enemies.


You anoint my head with oil ;


my cup overflows.


Surely goodness and love will follow me


all the days of my life,


and I will dwell in the house of the LORD forever.



Sunday, May 17, 2009

Pimpinan Tuhan


PIMPINAN TUHAN


“Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu. (Keluaran 13:17-22)


Mengapa kadang Tuhan menuntun hidup kita dengan cara dan ke arah yang sulit kita mengerti? Tentu karena Dia lebih tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita, sehingga apapun bentuk tuntunan-Nya pasti terbaik.

Umat Israel juga mengalami hal yang sama. Tuhan tidak langsung memimpin mereka melalui tanah Filistin yaitu jalan tercepat untuk sampai ke tanah perjanjian. Sebaliknya Ia memimpin mereka berputar melalui jalan yang penuh rintangan berupa padang gurun yang harus dilintasi dan Laut Teberau yang harus diseberangi. Tuhan memiliki pertimbangan sendiri. Dia tidak ingin mereka menyesal dan kembali ke Mesir karena harus menghadapi pencobaan yang tidak dapat mereka tanggung (peperangan dengan orang Filistin, yang kuat dan suka berperang dengan senjata lengkap). Tuhan tahu mereka adalah mantan budak yang belum siap dan terlatih untuk berperang , karena dalam Keluaran 12:21 Alkitab katakan “mereka hanya membawa tongkat” saja.

Walaupun perjalanan mereka agak berputar, Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Tuhan hadir melalui tiang awan pada siang hari supaya mereka tidak kepanasan dan tiang api pada malam hari supaya mereka tidak kedinginan (di padang gurun perubahan suhu pada siang dan malam hari biasanya sangat tajam). Yang indah disini adalah mereka merespons penyertaan Tuhan ini dengan mempercayai bahwa Tuhan sedang menggenapkan janji-Nya pada nenek moyang mereka, Yusuf. Oleh karena itu mereka membawa serta tulang belulang Yusuf untuk dimakamkam ulang di tanah perjanjian kelak (Bdk Kej 50:25).

Banyak hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup kita, yang tentunya ada dalam izin dan rencana Tuhan. Apakah itu ujian dan pencobaan untuk memurnikan iman kita.Namun jangan gentar apalagi ragu. Roh-Nya yang kudus yang tinggal diam di dalam hati kita, akan menyertai kita. Tuhan Yesus menjadi sahabat sejati yang mendampingi kita.Walaupun Kristus sudah dimuliakan oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Dia dekat dengan kita. Bapa sorgawi menaungi dan memberkati kita.


Soli Deo Gloria

Saturday, May 16, 2009

Gereja



GEREJA

Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang Kudus dan Am, Persekutuan Orang Kudus...

Yang manakah dari contoh berikut ini yang mewakili pengalaman bergereja? Kesukaan saat berjumpa dengan orang yang seiman, atau kekaguman saat berada dalam gedung gereja megah dengan arsitektur gothic atau baroque? Menurut hemat saya, yang pertama mewakili kesukaan bergereja dalam arti persekutuan dan pengalaman kehadiran Kristus (Mat. 18.20), sedangkan perasaan khusyuk kagum dalam sebuah gedung gereja megah tidak lengkap mewakili pengalaman bergereja!

Dalam PIR(Pengakuan Iman Rasuli), pengakuan iman tentang Gereja didahului oleh pengakuan terhadap Roh Kudus. Sungguh penempatan yang tepat dan indah sebab Roh Kuduslah yang mengimplementasi karya penyelamatan Yesus Kristus sehingga orang boleh mengalami pembaruan hidup, luput dari dunia yang jahat dan menjadi Gereja yaitu umat kepunyaan Allah sendiri. Apa saja sifat hakiki Gereja menurut pengakuan iman historis yang kita warisi? Menurut Pengakuan Iman Nicea, ada empat sifat hakiki Gereja yaitu am, kudus, esa dan rasuli. Mari kita telusuri kebenaran ini agar dapat kita perjuangkan pewujudannya.

Pertama, Gereja bersifat am atau katolik atau universal. Dalam Perjanjian Lama rencana keselamatan Allah masih mewujud dalam lingkup yang agak terbatas yaitu di sekitar umat Israel. Namun dengan terpenuhinya Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, terbentuk pula sifat baru dari umat tebusan Allah yaitu lintas suku, bahasa, bangsa menjadi Gereja internasional yaitu Gereja yang Am. Lebih dari itu, Roh pun tidak lagi terbatas hanya dicurahkan ke segelintir pemimpin tetapi kepada semua pengikut Kristus (Yoh. 14.16-17; 16.13-14). Maka Gereja yang adalah Bait Roh Allah menjadi bersifat universal (katolik/am) karena semua orang percaya dipersatukan di dalam karya penyelamatan Yesus Kristus.

Kedua, Gereja adalah orang-orang yang telah diluputkan oleh Kristus dari kecemaran dunia dan dari dosa pribadi. Kristus memungkinkan apa yang tidak mungkin manusia upayakan sendiri dengan cara apa pun yaitu pembaruan hati atau kelahiran baru atau dilahirkan dari Allah (Yoh. 1.12; 3.3, 8; 13.10; 1Yoh. 2.29; 3.9). Pembaruan hati adalah karya Allah dalam keberadaan subjektif kehidupan orang beriman mengiringi karya anugerah Allah yang secara objektif memilih dan memisahkan kita dari kerajaan gelap masuk ke dalam Kerajaan terang-Nya. Kekudusan Gereja dan kekudusan kehidupan orang Kristen perorangan adalah akibat dari dua aspek dalam satu tindakan dahsyat anugerah Allah yang sama di dalam Kristus. Dengan memasukkan kita ke dalam Kristus kita beroleh status kudus yaitu menjadi milik Allah, dengan Roh membarui hati kita kita beroleh sifat baru yang memungkinkan kita hidup melakukan perintah-perintah-Nya yang kudus. Dalam Yohanes 13 Tuhan Yesus melukiskan hal ini dengan “mandi”. Melalui mandi yaitu tindakan pembasuhan total Kristus atas hidup kita, kita menjadi bersih dan berbagian dalam Gereja-Nya. Dalam pasal sama Yesus mengajarkan para murid-Nya agar mengkondisikan terus proses pengudusan ini yaitu dengan tindakan saling mengasihi sampai berwujud ke saling mencuci kaki, yaitu saling melayani demi menumbuhkan kekudusan bersama. Saling menegur, saling mendoakan, saling mengasihi dan disiplin Gereja adalah berbagai tindakan agar kekudusan Gereja terpelihara.

Ketiga, keesaan Gereja adalah target yang Tuhan Yesus ingin lihat terwujud dalam Gereja sehingga Ia mendoakannya (Yoh. 17.11, 20-21). Tuhan Yesus secara khusus mendoakan keesaan Gereja ini dalam doa imamat-Nya karena kepentingannya terkait dengan dua hal. Pertama, keesaan Gereja menjadi cerminan dari keajaiban sifat Tritunggal Allah. Sifat Tritunggal Allah memang merupakan misteri yang tak mungkin terpecahkan dengan penjelasan yang mengandalkan analisis logis numerik. Namun manifestasi kebenaran sifat Tritunggal itu kita alami dalam kehadiran Yesus Kristus yang di dalam-Nya kemuliaan, rencana, misi Allah menyatu penuh dan mewujud. Keesaan sifat, hasrat dan misi di dalam relasi ketiga Pribadi Tritunggal itulah yang melahirkan Gereja. Maka logislah bila gereja memanifestasikan keesaan yang serasi dengan keesaan kasih kekal ilahi dalam Allah Tritunggal. Kedua, Tuhan Yesus menempatkan keesaan Gereja bukan saja sebagai akibat dari karya Tritunggal tetapi juga sebagai sebab yang akan membuat missi Gereja menyaksikan Yesus Kristus akan berhasil (Yoh. 17.21b). Apabila Gereja baik lokal, denominasional, maupun regional atau global gagal memanifestasikan keesaan dalam kebenaran dan kasih, maka kekuatan missi Gereja menyaksikan Kristus akan tergerogoti. Sebab, dengan konsekuen memelihara keesaan dalam berbagai praktik yang dikayakan oleh kebenaran, saling peduli, ibadah yang menyatupadu, maka fakta bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Juruselamat menjadi kasat mata dalam kehidupan berGereja

Keempat, Gereja sejati adalah Gereja yang setia memelihara dan mempraktikkan kebenaran yang diwarisi dari para rasul seperti yang dicatat dalam Alkitab ke dalam konteks zaman dan budaya yang berbeda. Gereja hidup dalam dunia namun bukan dari dunia. Gereja adalah bagian dari dunia baru bukan bagian dari dunia yang akan berlalu ini. Namun demikian Gereja tidak boleh mengembangkan sikap tidak peduli tentang dunia dan hidup seolah sudah tercabut dari sejarah. Dalam doa-Nya Kristus meminta agar Gereja dipelihara dalam kebenaran sambil tetap berkontribusi aktif dalam dunia ini (Yoh. 17.14-17). Demi kemampuan agar dapat berinteraksi kritis dan konstruktif itulah Gereja harus setia secara dinamis dan kreatif dalam meneruskan kebenaran Injil yang rasuli. Itu sebabnya reformasi terjadi. Dan Gereja yang rasuli adalah Gereja yang terus menerus membuka diri bagi reformasi kebenaran Firman dan Roh.

Mari kita tidak bervisi dan bersemangat sempit, ekstrim, kuantitatif, sektarian dalam bergereja. Mari kita syukuri, hasrati, perjuangkan dan praktikkan dalam sikap perorangan maupun dalam berbagai tindakan kebergerejaan kita, bahwa kita adalah bagian dari Gereja yang Am, Kudus, Esa dan Rasuli. (PH)

Dalam naskah Pengakuan Iman Nicea: “gereja yang am-kudus-esa dan rasuli” (one holy catholic and apostolic church).
Selanjutnya disingkat sebagai PIN.

Sumber : Persekutuan Pembaca Alkitab

Wednesday, May 13, 2009

Berkat Pembenaran Menghasilkan "Damai Dengan Allah"


BERKAT PEMBENARAN MENGHASILKAN

"DAMAI DENGAN ALLAH"


“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu” ( Roma 5:1-11)


Murka Allah nyata atas orang berdosa ( Roma 1:18 ). Namun mereka yang telah dibenarkan oleh Allah di dalam Kristus Yesus tidak perlu takut lagi pada murka itu. Rasul Paulus menyatakan cara orang dibenarkan di hadapan Allah, yaitu oleh iman. Paulus tidak menulis “ kita yang melakukan hukum Allah dengan sempurna “ dan dia juga tidak menulis “ kita yang telah menjadi orang suci “. Dia menuliskan “dibenarkan”.

“Dibenarkan” mengandung arti bahwa kini hubungan kita dengan Allah telah pulih, bahwa kita termasuk umat-Nya dan boleh percaya bahwa Dia Allah kita. Sebaliknya, kata-kata berikutnya : kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah artinya tidak mengacu pada perasaan batin, perasaan aman sentosa, tetapi pada keadaan yang berlaku antara Allah dengan kita, yang berbicara mengenai permusuhan yang telah berlaku antara Allah dengan kita. Kendati demikian, keadaan damai itu tentu menghasilkan perasaan aman sentosa dalam hati. Orang yang mengupayakan pembenarannya sendiri tidak bisa tidak selalu gelisah. Sebab tidak mungkin ia memperoleh kepastian mengenai cukup-tidaknya upayanya itu. Sebaliknya, orang yang “telah dibenarkan” karena karya Yesus Kristus tidak perlu lagi merasa gelisah, karena karya itu pasti sudah cukup. Dan damai sejahtera langsung dihubungkan dengan pembenaran oleh iman.

Pembenaran yang Allah lakukan oleh karena karya Kristus menghadirkan berkat dalam kehidupan orang yang dibenarkan. Berkat apakah itu ?

  • Pertama : Diperdamaikan dengan Allah, sehingga menikmati damai sejahtera dengan Dia. Melalui kematian-Nya, Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah.
  • Kedua : Melalui pendamaian itu, manusia beroleh jalan masuk kepada Allah. Sebab itu manusia tidak perlu lagi memakai perantaraan imam untuk datang kepada Allah. Dengan demikian terjalinlah persekutuan manusia dengan Allah.
  • Ketiga : manusia memiliki pengharapan akan kemuliaan. Ini berlawanan dengan dosa yang membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah ( Roma 3:23)
  • Keempat : memampukan orang percaya untuk bersukacita dalam penderitaan. Allah memakai penderitaan untuk menghasilkan karakter yang tahan uji. Roh Kudus yang berdiam di dalam hidup orang percaya memampukan orang percaya untuk teguh bertahan.
  • Kelima : Diselamatkan dari murka Allah yang akan datang.

Manusia adalah ciptaan Allah, Allah adalah Tuhannya, dan manusia wajib menghormati serta memuji Allah. Dalam Firdaus manusia memang hidup dalam persahabatan dengan Allah ( Kej 3:8a). Ketika manusia berdosa, hal itu tidak bisa tidak menyakiti hati Tuhan. Persahabatan itu berbalik menjadi permusuhan. Tetapi Tuhan sendiri bertindak, supaya perbuatan berdosa manusia ciptaan-Nya ditebus (Roma 3:25). Tindakan itu mahal sekali bagi diri-Nya. Maka Dia hanya berbuat demikian karena Dia tetap mengasihi manusia, meskipun manusia itu telah berdosa. Karena itu, pembenaran kita berarti persahabatan yang semula telah dipulihkan kembali. Bukan karena perbuatan kita, melainkan karena perbuatan Allah di dalam Yesus Kristus.

Demikianlah kita melihat bagaimana pembenaran yang dilakukan Allah atas manusia melalui karya Kristus, menjadi pintu yang membukakan banyak berkat. Dan semua itu tidak mungkin terjadi melalui ketaatan manusia pada Taurat( Hukum-Hukum Allah). Hanya oleh kasih karunia Allah kita memiliki keselamatan yang mencakup juga aspek masa datang. Merenungkan hal itu, membuat kita menyadari begitu besar makna pengorbanan Kristus di atas kayu salib bagi status manusia di hadapan Allah. Maka seharusnyalah kita, yang telah diperdamaikan dengan Allah oleh Kristus, hidup dengan menikmati seluruh kekayaan berkat itu. Jangan pernah mau undur dari iman yang telah Anda nyatakan, karena Tuhan pasti akan menguatkan. Ingatlah bahwa kemenangan iman kita akan dinyatakan kelak dan kita akan menikmati kemuliaan sebagi anak-anak Allah.


Soli Deo Gloria

Thursday, May 7, 2009

Cinta Perlu Bersabar


CINTA PERLU BERSABAR


“ Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. ( Kejadian 29:20 )


Jhon baru pulang dari kampusnya. Walaupun tubuhnya lelah, tetapi wajahnya tampak ceria. Setengah keheranan ibunya bertanya : “ John, ada angin apa yang membuatmu kelihatan berseri-seri ? Bukankah kuliahmu melelahkan hari ini ?”

“ Oh, mama, di kelas kami hadir mahasiswi baru. Namanya Rani. Wajahnya cantik bak bidadari. Tubuhnya indah dan seksi. Gaya bicaranya dan gerak-geriknya memukau setiap mahasiswa. Semua mahasiswa ingin berkenalan dan dekat dengannya”. Jawab Jhon dengan bergairah. Lalu bagaimana denganmu?”, tanya ibunya antusias. “Saya mencuri pandang padanya. Dan matanya yang bak bintang kejora itu ternyata terus menerus mencuri pandang padaku. Mata kami beradu berulang kali. Dan, saya rasa saya jatuh cinta padanya karena ada getaran magnetis yang kurasakan. Saya yakin dia juga merasakannya sebab dia akhirnya beberapa kali tersenyum manis padaku”, jawab John sambil melompat kegirangan.

“Jangan-jangan kamu yang GR (gede rasa)”, balas ibunya sambil ngeledek. “Benar mama. Sebelum pulang, saya sempat berkenalan dan menyalami tangannya. Lalu saya tanyakan apa boleh bermain ke rumahnya ? Dia berkata : “ Terimaksih untuk perhatianmu padaku. Tentu engkau boleh ke rumahku. Bagaimana kalau Sabtu ini ? Aku benar-benar jatuh cinta pada Rani. Jatuh cinta sejuta rasa, la..la…la..” jawab Jhon sambil bersenandung sambil tersenyum senyum. Maklumlah kalau lagi jatuh cinta, hati rasanya berbunga-bunga.

Ternyata, dari Sabtu pagi hingga petang John masih mengunci diri dikamarnya. Ibunya keheranan lalu menyapanya : “ John, katanya mau ke rumah Rani. Jam berapa kamu akan berangkat?” “Tidak jadi ma”, jawab Jhon setengah berteriak. “Lho, kenapa ?”, kata ibunya seraya masuk ke kamarnya. “Kemarin Rani tertangkap basah menjual obat bius di kampus. Tidak mungkin saya akan berpacaran dengan seorang pengedar sekaligus pencandu obat bius ma,” jawab John pelan.

Saudara, jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal yang wajar dialami oleh setiap insan manusia. Cinta sejati perlu diuji oleh waktu yang panjang. Sebab itu cinta perlu bersabar. Dan sabar itu menuntut proses waktu, energi, kesetiaan, dan kesungguhan hati yang tidak dapat dihitung secara matematis.

Alkitab mencatat bahwa Yakub jatuh cinta kepada Rahel, sebab itu dia rela bekerja dengan sabar pada Laban, pamannya, tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel ( Kej 29:18). Cinta membutuhkan pengorbanan juga.

Saudara, apakah saudara sedang jatuh cinta ? Atau baru mau mulai menjalin cinta ? Atau bingung bagaimana menguji cinta sejati? Anjuran saya, ujilah dengan kesabaran yang tentunya meminta proses, waktu, energi, keseriusan, dan kesetiaan. Cinta sejati pastilah tahan uji, karena memang cinta itu perlu bersabar. Ingatlah, jangan terburu-buru. Raja Salomo memberikan peringatan serius :

“ Milik yang diperoleh dengan cepat (terburu-buru) pada mulanya akhirnya tidak diberkati “. ( Amsal 20:21)

Hayo, masih mau terburu-buru ? Sabaaaarrrrr…doooooooonggg!

Mezbah Keluarga


MEZBAH KELUARGA


“ Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" ( Yosua 24:15 )


Bangsa Israel sudah berhasil memasuki negri Kanaan yang dijanjikan Allah. Atas keberhasilan ini mereka mulai melupakan Tuhan,Allah Yahweh yang telah memimpin dan memberkati mereka. Dalam prakteknya, mereka terjatuh dalam godaan untuk menyembah kepada “ilah (allah) orang Mesir” yang pernah disembah nenek moyang mereka atau kepada “allah orang Amori” yang disembah oleh rakyat lokal. Dalam persimpangan iman itulah, Yosua menghimbau mereka kembali beribadah kepada Allah Yahweh, namun Yosua tidak memaksakan kehendaknya. Dia menghargai “kehendak bebas” orang Israel sama seperti Allah menghargainya. Namun sebagai pemimpin umat, Yosua mengumumkan tekadnya dengan tegas tanpa kompromi.

Perhatikan kalimat terakhir..” kami akan beribadah kepada TUHAN !”. Itu tekad Yosua dan seisi keluarganya. Ayat di atas diucapkan oleh Yosua di depan seluruh rakyat Israel sebagai tekad imannya yang bulat tanpa bisa ditawar-tawar. Indahnya, sebagai seorang kepala keluarga dia tahu jelas tanggung jawabnya untuk memimpin seisi keluarganya setia beribadah kepada TUHAN yang hidup, yang sudah menyelamatkan dan memberkati hidupnya.

Setiap tahun kita merayakan “Hari Ibu” dan “Hari Ayah” ataupun “Hari Orang Tua”. Biarlah ayat di atas mengingatkan setiap orang tua untuk memimpin seisi keluarganya untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamat dan juga memimpin seisi keluarganya bertumbuh dewasa dalam iman, kebenaran, kasih dan pelayanan yang setia pula. Adalah tidak benar, kalau seorang ayah atau ibu Kristen berkata : “ Saya sih membiarkan anak-anak apa maunya. Mereka bebas memilih apakah mereka mau menjadi seorang Kristen, Islam, Budhis, atau apa saja.”

Sekilas, kelihatannya “cukup dewasa” atau “demokratis” namun sama sekali tidak bijaksana. Jika seorang ayah atau ibu tahu bahwa keselamatan dan hidup kekal hanya ada dalam Kristus, mengapa tidak bertekad memimpin anak-anaknya mengenal Kristus dan bertumbuh dalam Firman-Nya?

Sebagai orang tua, seorang ayah atau ibu bertanggung jawab atas semua kebutuhan seluruh isi keluarganya termasuk kebutuhan rohani. Sebab itu, tekad Yosua hendaklah menjadi tekad para orang tua untuk membangun keluarga yang beriman dan bertumbuh dalam Tuhan dengan setia. Salah satu cara untuk mencapainya, adalah dengan membangun mezbah keluarga ( family altar). Artinya, menyediakan waktu yang khusus secara berkala untuk beribadah bersama dalam keluarga dengan membaca Alkitab,berdoa, memuji Tuhan, dan belajar membangun relasi yang akrab secara vertikal dan horizontal.

Dalam zaman yang modern dan serba sibuk ini tampaknya membangun mezbah keluarga tidaklah gampang. Jangankan jemaat biasa, keluarga majelis, aktivis, bahkan keluarga para rohaniawan pun mengalami kesulitan mencari waktu bersama anak-anak mereka duduk bersama memikirkan Firman Tuhan dan berdoa bersama. Banyak sekali alasannya. Si kecil tidak ada waktu yang tetap, si remaja terlalu banyak kegiatan, yang muda banyak urusan pribadi, sang ayah terlalu sibuk dan lain sebagainya.

Lalu, apakah karena hal ini sulit, lalu kita stop dan putus asa untuk mencoba”? Jelas tidak! Di bawah ini ada beberapa “tips” untuk memulai mezbah keluarga yang sederhana :

  1. Jangan pakai waktu yang lama. Cukup 15 menit saja. Boleh di pagi atau malam hari.
  2. Gunakan buku “Santapan Harian”sebagai penuntun. Yang seorang baca bagian Alkitab, yang lainnya membaca renungannya. Tentunya bahan “renungan” yang lain bisa juga digunakan (seperti Renungan Harian (Our Daily Bread), Sabda Bina Umat (SBU) oleh gereja GPIB, dsb . Bisa pula bahannya diselang-seling agar ada variasi yang kreatif.
  3. Doa bersama boleh dipimpin ayah, ibu, atau bergiliran. Anggota keluarga boleh mengusulkan pokok-pokok doa. Kalau bisa, gunakan papan doa/daftar doa, sehingga dapat dicek apakah doa-doanya sudah dijawab Tuhan.
  4. Yang menjadi pemimpin adalah ayah, atau ibu (jika ayah absen). Tanyakan anak-anak jika ada sesuatu yang tidak dimengerti. Jika mengalami kesulitan, boleh tanyakan kepada hamba Tuhan. Jangan malu untuk bertanya.

Waktu untuk mezbah keluarga sangat penting dan indah. Hal ini merupakan sarana untuk membangun iman, kerohanian, pengetahuan, kasih, dan komunikasi dengan Allah dan dengan sesama anggota keuarga. Semua ini menuntut harga yang harus dibayar yaitu : kesabaran, sikap positif, dan pantang putus asa. Mari kita mulai, yuk !

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja