Saturday, May 16, 2009

Gereja



GEREJA

Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang Kudus dan Am, Persekutuan Orang Kudus...

Yang manakah dari contoh berikut ini yang mewakili pengalaman bergereja? Kesukaan saat berjumpa dengan orang yang seiman, atau kekaguman saat berada dalam gedung gereja megah dengan arsitektur gothic atau baroque? Menurut hemat saya, yang pertama mewakili kesukaan bergereja dalam arti persekutuan dan pengalaman kehadiran Kristus (Mat. 18.20), sedangkan perasaan khusyuk kagum dalam sebuah gedung gereja megah tidak lengkap mewakili pengalaman bergereja!

Dalam PIR(Pengakuan Iman Rasuli), pengakuan iman tentang Gereja didahului oleh pengakuan terhadap Roh Kudus. Sungguh penempatan yang tepat dan indah sebab Roh Kuduslah yang mengimplementasi karya penyelamatan Yesus Kristus sehingga orang boleh mengalami pembaruan hidup, luput dari dunia yang jahat dan menjadi Gereja yaitu umat kepunyaan Allah sendiri. Apa saja sifat hakiki Gereja menurut pengakuan iman historis yang kita warisi? Menurut Pengakuan Iman Nicea, ada empat sifat hakiki Gereja yaitu am, kudus, esa dan rasuli. Mari kita telusuri kebenaran ini agar dapat kita perjuangkan pewujudannya.

Pertama, Gereja bersifat am atau katolik atau universal. Dalam Perjanjian Lama rencana keselamatan Allah masih mewujud dalam lingkup yang agak terbatas yaitu di sekitar umat Israel. Namun dengan terpenuhinya Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, terbentuk pula sifat baru dari umat tebusan Allah yaitu lintas suku, bahasa, bangsa menjadi Gereja internasional yaitu Gereja yang Am. Lebih dari itu, Roh pun tidak lagi terbatas hanya dicurahkan ke segelintir pemimpin tetapi kepada semua pengikut Kristus (Yoh. 14.16-17; 16.13-14). Maka Gereja yang adalah Bait Roh Allah menjadi bersifat universal (katolik/am) karena semua orang percaya dipersatukan di dalam karya penyelamatan Yesus Kristus.

Kedua, Gereja adalah orang-orang yang telah diluputkan oleh Kristus dari kecemaran dunia dan dari dosa pribadi. Kristus memungkinkan apa yang tidak mungkin manusia upayakan sendiri dengan cara apa pun yaitu pembaruan hati atau kelahiran baru atau dilahirkan dari Allah (Yoh. 1.12; 3.3, 8; 13.10; 1Yoh. 2.29; 3.9). Pembaruan hati adalah karya Allah dalam keberadaan subjektif kehidupan orang beriman mengiringi karya anugerah Allah yang secara objektif memilih dan memisahkan kita dari kerajaan gelap masuk ke dalam Kerajaan terang-Nya. Kekudusan Gereja dan kekudusan kehidupan orang Kristen perorangan adalah akibat dari dua aspek dalam satu tindakan dahsyat anugerah Allah yang sama di dalam Kristus. Dengan memasukkan kita ke dalam Kristus kita beroleh status kudus yaitu menjadi milik Allah, dengan Roh membarui hati kita kita beroleh sifat baru yang memungkinkan kita hidup melakukan perintah-perintah-Nya yang kudus. Dalam Yohanes 13 Tuhan Yesus melukiskan hal ini dengan “mandi”. Melalui mandi yaitu tindakan pembasuhan total Kristus atas hidup kita, kita menjadi bersih dan berbagian dalam Gereja-Nya. Dalam pasal sama Yesus mengajarkan para murid-Nya agar mengkondisikan terus proses pengudusan ini yaitu dengan tindakan saling mengasihi sampai berwujud ke saling mencuci kaki, yaitu saling melayani demi menumbuhkan kekudusan bersama. Saling menegur, saling mendoakan, saling mengasihi dan disiplin Gereja adalah berbagai tindakan agar kekudusan Gereja terpelihara.

Ketiga, keesaan Gereja adalah target yang Tuhan Yesus ingin lihat terwujud dalam Gereja sehingga Ia mendoakannya (Yoh. 17.11, 20-21). Tuhan Yesus secara khusus mendoakan keesaan Gereja ini dalam doa imamat-Nya karena kepentingannya terkait dengan dua hal. Pertama, keesaan Gereja menjadi cerminan dari keajaiban sifat Tritunggal Allah. Sifat Tritunggal Allah memang merupakan misteri yang tak mungkin terpecahkan dengan penjelasan yang mengandalkan analisis logis numerik. Namun manifestasi kebenaran sifat Tritunggal itu kita alami dalam kehadiran Yesus Kristus yang di dalam-Nya kemuliaan, rencana, misi Allah menyatu penuh dan mewujud. Keesaan sifat, hasrat dan misi di dalam relasi ketiga Pribadi Tritunggal itulah yang melahirkan Gereja. Maka logislah bila gereja memanifestasikan keesaan yang serasi dengan keesaan kasih kekal ilahi dalam Allah Tritunggal. Kedua, Tuhan Yesus menempatkan keesaan Gereja bukan saja sebagai akibat dari karya Tritunggal tetapi juga sebagai sebab yang akan membuat missi Gereja menyaksikan Yesus Kristus akan berhasil (Yoh. 17.21b). Apabila Gereja baik lokal, denominasional, maupun regional atau global gagal memanifestasikan keesaan dalam kebenaran dan kasih, maka kekuatan missi Gereja menyaksikan Kristus akan tergerogoti. Sebab, dengan konsekuen memelihara keesaan dalam berbagai praktik yang dikayakan oleh kebenaran, saling peduli, ibadah yang menyatupadu, maka fakta bahwa Yesus sungguh Tuhan dan Juruselamat menjadi kasat mata dalam kehidupan berGereja

Keempat, Gereja sejati adalah Gereja yang setia memelihara dan mempraktikkan kebenaran yang diwarisi dari para rasul seperti yang dicatat dalam Alkitab ke dalam konteks zaman dan budaya yang berbeda. Gereja hidup dalam dunia namun bukan dari dunia. Gereja adalah bagian dari dunia baru bukan bagian dari dunia yang akan berlalu ini. Namun demikian Gereja tidak boleh mengembangkan sikap tidak peduli tentang dunia dan hidup seolah sudah tercabut dari sejarah. Dalam doa-Nya Kristus meminta agar Gereja dipelihara dalam kebenaran sambil tetap berkontribusi aktif dalam dunia ini (Yoh. 17.14-17). Demi kemampuan agar dapat berinteraksi kritis dan konstruktif itulah Gereja harus setia secara dinamis dan kreatif dalam meneruskan kebenaran Injil yang rasuli. Itu sebabnya reformasi terjadi. Dan Gereja yang rasuli adalah Gereja yang terus menerus membuka diri bagi reformasi kebenaran Firman dan Roh.

Mari kita tidak bervisi dan bersemangat sempit, ekstrim, kuantitatif, sektarian dalam bergereja. Mari kita syukuri, hasrati, perjuangkan dan praktikkan dalam sikap perorangan maupun dalam berbagai tindakan kebergerejaan kita, bahwa kita adalah bagian dari Gereja yang Am, Kudus, Esa dan Rasuli. (PH)

Dalam naskah Pengakuan Iman Nicea: “gereja yang am-kudus-esa dan rasuli” (one holy catholic and apostolic church).
Selanjutnya disingkat sebagai PIN.

Sumber : Persekutuan Pembaca Alkitab

1 comment:

  1. gereja yang am (=baca: katolik).
    am itu bahasa apa sih...? kalau itu bahasa lain yang artinya katolik, mengapa tidak dipakai istilah KATOLIK saja..? apa ada alasan tertentu...?

    ReplyDelete

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja