Sunday, October 18, 2009

Melewati Lembah Kekelaman ( Kesaksian Akhir Hidup Bapakku, Drs. Ikuten Ginting )




MELEWATI LEMBAH KEKELAMAN

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” ( Mazmur 23:4 )

Daud adalah seorang gembala. Dalam Mazmur ini Daud menempatkan dirinya dalam tempat domba. Dia melihat dirinya sebagai seekor domba di bawah naungan Gembala Agung. Dia memasuki lembah itu tanpa takut karena alasan yang di luar kemampuan : “ Gembala itu terus bersama dia. Dia mempercayakan dirinya di bawah asuhan dan perlindungan Gembala itu. Domba itu menemukan kenyamanan dalam senjata Gembala itu yaitu gada dan tongkat. Gembala di zaman dulu dipersenjatai. Dia akan mempergunakan lekukan di bagian atas tongkatnya untuk menyelamatkan seekor domba yang jatuh ke lubang. Dia akan mempergunakan lekukan di bagian atas tongkatnya untuk menyelamatkan seekor domba yang jatuh ke lubang. Dia akan mempergunakan gadanya terhadap binatang buas yang berusaha menerkam dombanya. Tanpa gembala, domba-domba itu tidak berdaya dalam lembah kekelaman. Tetapi, sepanjang gembala itu hadir maka domba itu tidak takut tentang apapun.
Jika seekor beruang atau singa menyerang gembala itu dan menewaskannya, maka domba-domba itu akan berpencar. Mereka akan rapuh terhadap cengkraman taring-taring singa. Jika gembala itu jatuh, semua domba itu bisa musnah.
Tetapi, kita memiliki Gembala yang tidak akan jatuh. Kita memiliki Gembala yang tidak akan tewas. Dia bukan gembala yang akan meninggalkan ternaknya pada saat adanya kesulitan. Gembala kita dipersenjatai dengan tenaga yang Mahakuat. Dia tidak terancam oleh lembah kekelaman. Dia yang menciptakan lembah itu. Dia pula yang menyelamatkan lembah itu.

Keyakinan Daud berakar dalam kepastian mutlak tentang kehadiran Allah. Dia mengerti bahwa dengan suatu panggilan Ilahi maka datanglah bantuan Ilahi dan janji yang mutlak tentang kehadiran Ilahi. Allah tidak akan mengirimkan kita ke suatu tempat ke mana Dia sendiri tidak ingin pergi.
Kehadiran Allah merupakan suatu tempat perlindungan kita dan kekuatan kita dalam saat-saat kesulitan. Janji-Nya bukan hanya bersama kita di lembah kekelaman. Bahkan yang lebih penting adalah janji-Nya akan apa yang terdapat di balik lembah itu. Lembah kekelaman kematian itu bukan sebuah jurang buntu. Lembah itu tidak berujung. Lembah itu merupakan suatu jalan terusan menuju sebuah negeri yang lebih baik. Lembah itu adalah lembah kehidupan, kehidupan yang jauh lebih berlimpah dari apapun yang bisa kita bayangkan. Tujuan pekerjaan kita adalah sorga. Tapi, tidak ada jalan ke sorga tanpa melalui lembah itu ( lembah kematian ).

Daud juga memahami itu. Walau dia hidup sebelum Kristus, sebelum Kebangkitan, sebelum Wahyu kemuliaan Perjanjian Baru, kenyataannya Allah tidak diam dalam masalah itu. Di sana sudah ada harapan akan jadi anggota keluarga Abraham. Daud mengakui imannya dengan mengatakan :
“ Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! ( Mazmur 27:13 )
Allah Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Allah orang-orang yang hidup. Allah Daud yaitu Allah Israel adalah Allah orang-orang yang hidup. Allah yang kita sembah dan kita kenal di dalam Yesus adalah Allah Tritunggal yaitu Allah orang-orang hidup.Ada kehidupan di balik lembah kematian.

                                   Foto Bapak dan Ibuku ( Drs.Ikuten Ginting dan Syeniria br Tarigan)

Bapak saya mengikuti perlombaan iman karena Allah memanggilnya untuk mengikuti perlombaan itu. Dia menyelesaikan perlombaannya karena Allah bersama dia melewati setiap rintangan. Dia mengakhiri hidupnya dengan memelihara iman. Bapak saya menderita sakit selama 13 tahun. Selama hidupnya sebagai seorang pengajar di Universitas pada Fakultas Sastra Inggris, ada tawaran agar dia meninggalkan iman percayanya kepada Kristus dan beralih ke Islam dengan imbalan mendapat jabatan yang tinggi di Universitas Islam. Tetapi dia menolak semua itu dan sampai akhir hidupnya imannya tetap kepada Tuhan Yesus. Setelah beberapa hari bapak saya meninggal dan dikuburkan, Allah memberi vision (penglihatan) dalam mimpi kepada adik saya yang paling kecil dan dia menceritakan mimpi (penglihatan) itu kepada saya, bagaimana para malaikat Tuhan menjaga dan melindungi bapak kami serta membawanya ke sorga. Dalam penglihatan yang nyata itu ada banyak malaikat-malaikat yang besar berjubah putih bersinar yang sayapnya berkepak-kepak mengelilingi bapak saya. Dan bapak saya dalam penglihatan mimpi itu sudah sehat, wajahnya bersinar, penuh kemuliaan, sukacita dan memakai jubah putih dan dikawal dan dikelilingi malaikat.
Ini merupakan warisan yang penuh kekuatan, warisan yang diberikan Kristus yang bangkit pada kita domba-domba-Nya.

Soli Deo Gloria

2 comments:

  1. AMAZING LIFE..AMAZING GOD

    ReplyDelete
  2. http://bungabakung-kesaksian.blogspot.com/2012/05/kabar-baik-kedok-penipuan-iblis-dibuka.html

    ReplyDelete

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja