Saturday, June 20, 2009

Keluarga Bahagia


KELUARGA BAHAGIA


“Nyanyian ziarah Salomo.” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” ( Mazmur 127:1)


Semua orang mendambakan keluarga yang bahagia. Sebab itu sepasang pria dan wanita normal yang sedang dalam masa pacaran pastilah membicarakan rencana mereka untuk membangun keluarga yang indah, sejahtera, dan penuh kebahagiaan. Rencana itu kemudian diteruskan menjadi sebuah tekad atau janji yang kuat untuk dilaksanakan. Namun, kenyataannya tidaklah semua-bahkan terlalu banyak-keluarga yang setelah menjalani masa pernikahan tidaklah mendapatkan kebahagiaan. Tidak jarang justru mengalami kehancuran. Statistik di Amerika Serikat menunjukkan bahwa angka perceraian bagi mereka yang menikah dalam satu tahun mencapai hampir 50 %. Suatu angka yang sangat menyedihkan dan menakutkan bukan ?

Sebenarnya di manakah letak rahasia membangun keluarga yang bahagia ? Seorang penyair, Frank Crane pernah menuliskan sebuah puisi yang menjelaskan tentang rahasia keluarga yang bahagia. Demikian isinya :


Keindahan dari sebuah rumah tangga adalah keharmonisan,

Rasa aman dari sebuah rumah tangga adalah kesetiaan,

Sukacita dalam sebuah rumah tangga adalah cinta kasih,

Kekayaan dari sebuah rumah tangga adalah anak-anak,

Peraturan dalam sebuah rumah tangga adalah saling melayani,

Penghiburan dalam sebuah rumah tangga adalah Allah sendiri.


Sebuah puisi yang indah bukan? Khususnya pada kalimat terakhir dia mengungkapkan soal penghiburan oleh Allah sendiri. Dalam Alkitab ada seorang raja yang sangat bijaksana, Salomo namanya. Dia diberikan inspirasi oleh Allah untuk menuliskan rahasia keluarga yang bahagia bagi umat manusia secara universal ( coba baca Mazmur 127 : 1). Rahasia yang jitu bukan ? Hanya mereka yang mengandalkan karya TUHAN, Allah Yahweh pencipta langit dan bumi yang berkuasa itu, untuk memulai dan mengawali terus rumah tangga mereka, barulah kebahagiaan sejati itu mungkin diperoleh dan dinikmati terus menerus.

Dengan kata lain, jika mau bahagia, haruslah mendirikan rumah tangga itu bersama-sama dengan Allah, dan membiarkan Allah yang terus menerus mengatur dan membangun-Nya. Inilah yang disebut dengan keluarga yang berpusatkan kepada Allah ( Theocentric Family). Keluarga yang sedemikian haruslah menjadikan Kristus sebagai kepala rumah tangga ( Christocentric Family) dan menjadikan Firman Tuhan ( Alkitab) sebagai prinsip utama dalam mengatur dan menjalankan rumah tangga ( Bible Oriented Family).

Jadi, sesungguhnya yang paling berkuasa dalam keluarga itu bukanlah sang suami, atau sang istri, atau anak-anak, atau sang mertua, atau siapapun, atau apa pun. Melainkan Kristus dan Firman-Nya. Semua anggota keluarga haruslah taat kepada prinsip Firman Tuhan. Maka, hasilnya Tuhan akan menganugerahkan kebahagiaan yang sejati itu. Manusia yang mencoba mengandalkan dirinya sendiri akan menemui kegagalan total. Manusia yang menganggap dirinya sanggup membangun rumah tangga yang bahagia akan menemui jalan kehancuran. Karena semua idaman manusia : “keharmonisan, kesetiaan, cinta kasih, saling mengasihi, saling melayani, penghiburan, kekuatan, sukacita, damai sejahtera, anak-anak yang taat, kesehatan jasmani, dan berkat materi, sesungguhnya terletak di dalam tangan Tuhan Allah. Sebab Dia adalah sumber hidup dan kehidupan, sumber berkat dan kasih karunia yang tak habis habisnya. Barangsiapa yang bersandar dan berharap kepada-Nya akan dikaruniakan semuanya itu.

Nats firman TUHAN diatas menjadi peringatan bagi kita hari ini. Janganlah saudara mengandalkan kekayaan, kekuatan, kecerdasan, kehebatan, dan pengalaman saudara dalam membangun keluarga yang bahagia. Jangan, saudara pasti akan gagal ! Andalkan Allah Bapa di sorga yang kita kenal dalam Tuhan Yesus Kristus. Percayalah, hanya TUHAN yang sanggup menolongmu !


Soli Deo Gloria

No comments:

Post a Comment

We Love Israel

We  Love Israel

Informasi Lowongan Kerja