Yeshua loves me,this I know.For the Bible tells me so.Little one to Him belong,I am weak,but He is strong.Yeshua is my Lord,Yes He loves me.Yes Yeshua loves me,the Bible tells me so.
IALAH KASIH ELOHIM YAHWEH, BUKAN KEBAIKAN ISRAEL SENDIRI
(Penulis : Ev. Orlando I P Ginting,S.T.)
“Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: "Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku."Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? "Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal." Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” ( Roma 11 : 1-6 )
Dalam sejarah dunia dan gereja, kita melihat adanya pertikaian dan peperangan yang sering terjadi di Timur Tengah khususnya di Jerusalem yaitu pertikaian antara bangsa Israel dan bangsa Palestina. Hal ini membuat negara-negara Arab dan sekutu-sekutunya negara-negara Muslim seperti Iran, Irak, Afganistan mengutuk Israel karena perluasan pemukiman Yahudi (Zionisme yaitu kembali ketanah Perjanjian) di jalur Gaza yang sering memicu pertempuran yang banyak mengambil korban. Dan dimana kita lihat presiden Sadam Husein yang sudah mati digantung oleh pemerintah dan rakyatnya sendiri yaitu rakyat Irak kalau tidak salah pada saat hari Idul Adha, pernah menyerang Israel dengan Rudal Scudnya. Tetapi Amerika membantu Israel dengan mengirimkan Rudal Patriotnya untuk melindungi Jerusalem. Saya sering membaca dalam literatur Islam dan tulisan-tulisan di surat kabar oleh Kiyai/Ulama/Ustad Islam dalam mimbar agama Islam. Mereka sering mengatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu adalah kaum kafir. Dan dalam website, blog, dan facebook muslim mereka mengatakan Israel itu “laknatulah”. Bahkan di dalam kalangan orang Kristen sendiri ada yang mengatakan bahwa orang Israel yang sekarang berbeda dengan yang dulu seperti di Alkitab.Bahkan ada yang membenci Israel karena mereka menyalibkan Tuhan Yesus.
Dalam uraian Firman Tuhan ini Rasul Paulus ingin memberantas semua anggapan dan pandangan tersebut yang ada di kalangan orang Kristen. Kita mengetahui bahwa Rasul Paulus adalah orang Israel, keturunan Abraham dan dari suku Benyamin..” Karena aku sendiri pun orang Israel…kata Paulus. Tetapi Rasul Paulus bukan sembarang orang percaya. Ia telah menjadi rasul untuk dunia bangsa-bangsa kafir ( Bdk Gal 2:9 ).
“Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;” ( Galatia 2:9 )
Disini Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan umat-Nya. Dia mengatakan : “ Sekali-kali tidak ! “ Jawaban ini sama tegasnya seperti ia membantah tuduhan seakan-akan ajarannya menghujat Tuhan ( Bdk Roma 3:1-8,31 , Roma 7:7, Roma 9:14). Agaknya Rasul Paulus mengatakan bahwa : mengabaikan rahmat Tuhan, mengingkari kesetiaan-Nya, setingkat dengan menghujat Dia, sehingga memerlukan jawaban yang sama-sama emosional.
Setelah Rasul Paulus memberi jawaban tidak langsung dengan mengacu pada jatidirinya sendiri, kini menyusulah jawaban langsung : “Allah tidak menolak umat yang dipilih-Nya”.Dibandingkan dengan ayat terdahulu ( Roma 9) ada tambahan, yang sekaligus mengandung alasan yang menyebabkan Allah tidak menolak umat-Nya. Yaitu Dia memilih umat itu. Disini dipakai perkataan yang sama seperti dalam Roma 8:29, yaitu “mengenal dari semula”.
“ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”. ( Roma 8:29 )
Dalam tafsiran Roma 8:29 kita telah melihat bahwa kata “ memilih” atau “mengenal” dalam Alkitab merupakan perbuatan kasih. Jadi , kita dapat menerjemahkan disini : umat-Nya, yang telah dipilih-Nya dengan penuh kasih sebelum segala zaman. Jadi dasar pemilihan Israel menjadi umat Tuhan ialah kasih Allah, bukan kebaikan Israel sendiri. Karena itu juga, pemilihan Allah itu tidak mungkin goyah.
Dalam nas-nas Firman Tuhan dalam Roma 9 perlu ditafsirkan dengan latar belakang dalam Roma pasal 11. Kita tidak boleh mengartikannya seakan-akan umat Israel tidak lagi menjadi umat Tuhan, kakak Gereja Kristen.
Dan kini Paulus mengemukakan alasan-alasan dengan lebih teratur. Ia mengambil contoh kisah Nabi Elia. Kisah itu diketahui umum di kalangan anggota jemaat, sebagaimana ditujukan oleh rumus “ Ataukah tidak kamu tahu..”. Kita dapat dapat saja menerjemahkan, “ Saudara saudara tentu mengetahui….”. Lalu Paulus menyajikan isi singkat kisah Elia sejauh tercantum dalam ( 1 Raja-Raja 19:10 dan 14 ). Kisah itu mengandung berita mengenai zaman lain dalam sejarah Israel, yang sama gelapnya dengan zaman Paulus. Nabi-nabi lainnya sudah dibunuh ( kata Elia), dan mezbah-mezbah Tuhan sudah dibongkar oleh Ratu Izebel yang fasik. Menurut perkataan Elia, jangankan nabi, orang yang setia kepada Tuhan pun sudah tidak ada lagi, hanya tinggal ia sendiri. Rasul Paulus menyajikan kata-kata Elia itu bukan sebagai keluhan, seperti halnya dalam kisah yang asli, melainkan sebagai dakwaan terhadap Israel ( “mengadukan”). Dan Rasul Paulus mengatakan jawaban Allah kepada nabi Elia “ Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal”. Allah memelihara sejumlah besar orang setia, yang tetap merupakan umat-Nya yang kudus.
Lalu Rasul Paulus menambahkan empat kata : “menurut pilihan kasih karunia”. Bila kita merenungkan kata-kata “menurut pilihan” ini, tambahan “kasih karunia” tidak boleh diabaikan. Kalau tambahan itu tidak ada, pilihan Allah dapat menjadi kenyataan yang mengerikan. Bagaimana kalau seseorang tidak termasuk jumlah yang terpilih, yang diangkat dari dalam massa yang binasa ! Tanpa tambahan itu kita akan merasa menghadapi Allah yang sewenang-wenang. Akan tetapi, disini tertulis “pilihan kasih karunia”. Artinya, kasih karunia itulah yang menentukan sifat, makna dan tujuan pilihan itu .Makna dan tujuannya ialah keselamatan “sisa” yang terpilih, supaya Tuhan tetap memiliki umat yang taat dan bersujud menyembah Dia, bukan berhala. Bagi mereka pilihan Allah menjadi sumber keselamatan dan penghiburan. Namun dalam tafsiran Roma 11:4, “sisa “ itu bukan jumlah yang tertutup. Batas kasih karunia Allah tidak sama dengan batas “sisa” itu, tetapi lebih luas.Dalam mega mendung hukuman-Nya yang mengancam, terbentang pelangi kasih karunia-Nya.
Kalau pemilihan kita berdasarkan perbuatan amal, kita bisa saja kehilangan status kita sebagai orang pilihan Allah begitu perbuatan itu menjadi berkurang. Kita mau tidak mau akan hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian karena hasil yang defenitif ( Hasil yang pasti) tidak dapat diketahui. Sebaliknya kalau pemilihan Allah oleh karena kasih karunia-Nya, hal itu berarti kasih karunia itu menjadi jaminan. Dia akan memelihara kita, dan kita tidak mungkin lepas dari tangan-Nya.( Bdk Efesus 2:8-9, Yoh 15:16).
Dalam Roma 11:17 Rasul Paulus memaparkan kepada kita dalam tafsirannya bahwa sesungguhnya, Gereja adalah umat Israel ditambah orang-orang Kristen yang non Yahudi.Sebab pemilihan Allah bertolak dari Israel, yaitu bapa-bapa leluhurnya, dan nasib bangsa-bangsa kafir tetap tergantung pada nasib Israel ( Bdk Roma 11:15). Keselamatan datang dari bangsa Yahudi ( Yohanes 4:22 ).
“Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” ( Yohanes 4:22 )
Pemilihan Abraham tidak berdasarkan pemilihan bangsa-bangsa non-Yahudi ( artinya kita), yang merasa sebagai tuan rumah dalam Gereja, tetapi pemilihan orang-orang non Yahudi terjadi berkat pemilihan Abraham. Gejala ini tidak hanya ditemukan di daerah-daerah yang tidak berpenduduk Yahudi, seperti halnya Indonesia, tetapi justru di Eropa Barat dan Timur sepanjang sejarah gereja di sana. Dalam Roma 11:19-21, Rasul Paulus sekali lagi menegur orang-orang Kristen non Yahudi, agar mereka jangan bersikap sombong terhadap Israel. Mereka beranggapan, orang Yahudi yang tidak percaya pada Injil telah ditolak Allah untuk selama-lamanya.
Jadi, kalau seorang Kristen non Yahudi dapat percaya bahwa dirinya diterima ke dalam umat Tuhan, meskipun ia bukan keturunan asli Abraham, terlebih lagi patutlah ia (kita) percaya bahwa Allah akan menerima mereka yang mula-mula termasuk umat asli ( bangsa Israel keturunan Abraham ) itu kembali ke dalam umat itu.
“Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali” ( Roma 11:23 )
Karena itu, ketidaksetiaan Israel tidak membatalkan kesetiaan Allah ( Bdk Roma 3:3-4 ). Kalau Israel dibenci ( Roma 9:13) dan ditegarkan ( Roma 9:17) oleh Allah, hal itu berlaku untuk sementara saja . “Kekasih” itulah perkataan Allah yang terakhir kepada bangsa Israel (Roma 11:28 ).Dan pada akhir zaman Israel pun akan beroleh kemurahan.
Pertanyaan : Mengapakah Rasul Paulus berani mengatakan bahwa “mengenai pilihan” Israel tetaplah “Kekasih Allah “?
Jawab :Sebab tidak mungkin Allah menarik kembali karunia-karunia yang pernah dianugerahkan-Nya dan membatalkan panggilan yang pernah dikeluarkan-Nya. Karunia-karunia itulah yang disebut dalam Roma 9:4-5, yakni pengangkatan menjadi anak, perjanjian, Hukum Taurat, dan seterusnya. Semua itu adalah “ perwujudan kasih karunia”.
“Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” ( Roma 9:4-5 )
Mungkin muncul pertanyaan lain lagi seperti ini:
Apakah bangsa Israel yang ada di Jerusalem (Timur Tengah) sekarang ini adalah umat Tuhan Yesus Kristus ?
Bagaimana sikap kita sebagai orang percaya (gereja kristen) terhadap bangsa Israel ?
Jawab :
Ya ! Waktu Tuhan Yesus datang kedunia ini dan berada di Israel yaitu di Yerusalem, Dia mengatakan kepada pendengar-Nya yaitu orang-orang Yahudi bahwa Dia adalah Tuhan atas Hari Sabat. Kita tahu bahwa hari Sabat adalah hari/waktu ibadah umat Israel di Sianagoga Yerusalem.
“ Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." ( Matius 12:8 )
Dan setelah Dia dimuliakan ( bangkit pada hari yang ke 3 dari maut/kematian dan naik ke sorga duduk disebelah kanan Allah Bapa), Tuhan Yesus memberikan Wahyu-Nya kepada Rasul Yohanes dan Ia menegaskan melalui Wahyu tersebut bahwa Bangsa Israel keturunan asli Abraham, Ishak dan Yakub yaitu “nama keduabelas suku Israel” tertulis di Yerusalem Baru dan Bumi Baru ( sorga yang mulia ). Kita melihat bahwa Allah menjamin keselamatan umat pilihan-Nya oleh karena kasih karunia-Nya. Hal ini berarti bangsa Israel adalah tetap umat pilihan-Nya. Dan Tuhan Yesus tidak menolak umat yang dipilih-Nya.
“Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel” ( Wahyu 21:12 )
Kemudian Rasul Paulus juga telah memberitahukan kepada kita dengan tegas melalui teologinya melalui bimbingan Roh Kudus kepada jemaat di Roma dalam Roma pasal 9 dan Roma pasal 11 sebagaimana telah kita uraikan diatas sebelumnya yaitu “ bahwa Allah tidak menolak umat yang dipilih-Nya ( bangsa Israel)”.
Dan bagaimana sikap kita terhadap bangsa Israel sekarang ini ? Apakah kita akan memihak Israel ? Adanya pertikaian di Timur Tengah dapat dan telah memicu kebencian kepada gereja Kristen (pemboman gereja) oleh orang- orang yang anti Israel dan anti Kristen. Melalui kasus bom bali I dan II oleh para teroris menggungkapkan kepada kita bahwa Islam garis keras (Mujahidin) akan terus memusuhi Israel dan Amerika serta sekutu-sekutunya. Ya, tentunya jawabannya adalah kita harus kembali kepada Alkitab Firman Allah. Kita harus lebih takut kepada TUHAN. Kita tidak perlu takut kepada pemerintah, tetapi kita menghormati pemerintah dan berdoa syafaat bagi pemerintah bangsa kita Indonesia agar kita dapat hidup tenang dan tentram dalam segala kesalehan dan kehormatan ( Bdk. 1 Tim 2: 1-2 ) , karena Alkitab mengatakan bahwa mereka adalah hamba Allah. Tetapi kalau pemerintah sudah memaksa kita (gereja) untuk menyeleweng dari iman percaya kita, kita harus lebih takut kepada TUHAN. Iblis sangat membenci gereja ( Israel dan umat Kristen) dan ingin membinasakannya. Tetapi usahanya gagal, karena Allah melindungi dan memelihara umat-Nya. Kita meyakini melalui Alkitab bahwa Allah akan melindungi dan memelihara-umat-Nya dan menyertai mereka sampai akhir zaman (Bdk. Why 12:13-14, Kel 19:4,Ul 32:11. Mat 28:20). Tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa seijin dan sepengetahuan-Nya.
Ada dua sikap yang saya rasa perlu kita imani dan yakini yaitu :
Kita patut bersyukur kepada Allah yang oleh karena anugerah-Nya dan perbuatan-Nya melalui karya Kristus kita bisa datang kepada Allah dan oleh karena kasih karunia-Nya kita layak disebut sebagai umat-Nya dan diterima kedalam umat-Nya. Kita yang dulunya adalah bangsa kafir, tetapi oleh karena ketidaktaatan Israel, kita diterima kedalam umat-Nya. (Orang Yahudi telah menolak dan menyalibkan Kristus. Tetapi perbuatan nekad itu justru menghasilkan keselamatan bagi seluruh dunia, karena demikianlah kehendak Tuhan. ( Bdk Roma 11:11 ) ).Memang orang non Yahudi diterima menjadi anggota umat Allah (keluarga Abraham). Namun, keselamatan mereka tergantung dari hal-ihwal hubungan Allah dengan umat pilihan-Nya, yaitu Israel. Dengan perkataan lain, Israel tetap sang kakak, dan gereja (kita) adalah adiknya. Itulah dasar teguran Rasul Paulus ( Bdk Roma 11 :15 ).
“ Sebab jika penolakan mereka (Israel) berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? “ ( Roma 11:15 )
Kita harus berdoa bagi kesejahteraan bangsa Israel (Jerusalem), mengasihi bangsa Israel dan berpihak kepadanya dan bukan ikut-ikutan mengutuknya, jikalau kita ingin diberkati TUHAN. Karena mereka adalah umat pilihan Allah, kekasih-kekasih Allah. Disini yang dipilih ialah seluruh Israel ( Roma 11:26 ). Dan dilihat dari sudut pilihan Allah, Israel dalam keseluruhannya tetap dikasihi Tuhan.
Sebagai akhir dari renungan Firman Tuhan ini marilah kita baca, renungkan dan uraikan Firman Tuhan dibawah ini. Tuhan mengasihi dan memberkati Israel.
“Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan seperti ada tertulis " Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka".Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya”.( Roma 11:28-29)
“ Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." ( Kejadian 12:3 )
“Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!" ( Bilangan 24:9 )
“Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.” ( Mazmur 122:6 )
Soli Deo Gloria
Daftar Pustaka :
Tafsiran Alkitab : SURAT ROMA Oleh : Dr. Th. Van Den End
“TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka." ( Bilangan 6:22-27 )
Berkat Imam telah sering kita dengar dalam Ibadah Minggu. Namun karena keseringan, ini membuat kita luput memperhatikan maknanya yang selalu dalam dan relevan. Pertama, diberkati dan dilindungi. Kedua, Tuhan sumber berkat jasmani dan rohani bagi umat-Nya. Mengapa perlu dilindungi dan diberkati ? Sebab sering terjadi bahwa berkat yang Tuhan berikan atas umat-Nya dirampok oleh kuasa-kuasa dunia ini dalam berbagai cara dan berbagai wajah. Maka Tuhan Allah bukan hanya memberkati tapi melindungi agar berkat-Nya tetap menjadi bagian umat-Nya. Tidak beralih ke yang lain.
Disinari wajah Tuhan dan diberikan kasih karunia. Sinar wajah Tuhan adalah “ Sinar Abadi “. Dalam sinar abadi ini maka kegelapan dikalahkan secara abadi pula. Hidup tidak lagi berada dalam kegelapan, tetapi dibawah terang Tuhan. Di bawah terang Tuhan selalu ada kasih dan karunia Tuhan.
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada orang yang diberkati. Itu artinya Tuhan memperhatikan secara serius. Setiap orang tua yang dengan serius memperhatikan anak mereka yang baru belajar berjalan. Perhatian ini memastikan bahwa anak itu akan dijaga supaya jangan jatuh dan makin pintar berjalan. Kalau kita berada dalam perhatian Tuhan, maka pasti hidup akan ditandai oleh damai sejahtera. Damai sejahtera hadir karena kita yakin akan jaminan Tuhan.
Berkat Tuhan lebih menunjuk pada hidup secara keseluruhan. Bukan terbatas pada hal-hal material belaka. Namun orang yang diberkati Tuhan akan mampu meraih kecukupan material. Tapi tanpa diberkati, maka kecukupan material yang ada bisa hilang, direbut oleh kuasa-kuasa duniawi. Mari memberi diri dan semua kita miliki kebawah payung berkat Tuhan. Sebab tidak akan ada kuasa apapun yang mampu memisahkan kita dari payung berkat Tuhan itu. Betapa kita beruntung punya Tuhan yang sekaligus menjadi Sumber berkat kita.
Soli Deo Gloria
Doa : Bapa surgawi.. terimakasih buat berkat-Mu, buat perlindungan-Mu dan buat kasih karunia-Mu yang memayungi dan memagari kami dari kuasa-kuasa dunia ini yang ingin merampok berkat-Mu dari hidup kami . Kiranya berkat, perlindungan dan kasih karunia yang Engkau berikan dapat memberikan sukacita, damai sejahtera dan kekuatan bagi kami dalam mengikuti Tuhan di dunia ini. Di dalam nama Tuhan Yesus kami bersyukur kepada-Mu. Amin.
PENDERITAAN SEBAGAI UJIAN : “ Mengapa TUHAN Mengijinkan Ini Semua Terjadi ? Mengapa Saya, ya TUHAN ?
Penulis : Ev. Orlando I P Ginting, S.T.
“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” ( 1 Petrus 1:6-9 )
Sejak beberapa tahun terakhir ini bangsa kita Indonesia mengalami berbagai krisis, tragedi dan bencana alam yang silih berganti. Dimulai dengan krisis ekonomi di tahun 1997, dilanjutkan dengan kerusuhan dan krisis multi dimensi di tahun 1998. Disusul dengan berbagai bencana alam seperti gempa di Nabire, banjir di Sumatera Utara, tsunami yang melanda Aceh, gempa yang melanda Nias, gempa yang melanda Pulau Jawa dan yang terakhir gempa di Padang.
Tidak mudah untuk menghadapi hal-hal yang mengguncangkan hati, terutama bagi korban yang terkena bencana alam secara langsung yang banyak merenggut korban jiwa, kepedihan, penderitaan, kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kehilangan semua harta benda. Bila tidak hati-hati, iman seseorang dapat ikut terguncang. Mungkin juga umat Tuhan akan bertanya-tanya di manakah Allah pada saat mereka mengalami kesulitan dan penderitaan ? Mengapa saya ya, Tuhan ? Di saat saat seperti ini umat Tuhan membutuhkan dorongan dan penghiburan.
Tentunya Firman Tuhan merupakan sumber kekuatan,penghiburan dan pegangan hidup bagi umat Tuhan saat menghadapi berbagai macam kesulitan dan penderitaan.
Kalau kita membaca Alkitab tentang kisah Ayub kita akan mendapat penghiburan dan kekuatan. Ayub adalah orang yang takut akan Tuhan, jujur, menjauhi kejahatan dan saleh. Tetapi ia menderita serangkaian kehilangan yang mengguncangkan dalam waktu beberapa jam saja. Saya pernah mendengar banyak kotbah yang didasarkan atas kehidupan tokoh Perjanjian Lama yang luar biasa ini, tetapi sumber frustasi paling kuat yang dirasakan Ayub ( ketidakmampuannya menemukan Allah ) sering terabaikan. Tetapi setelah Ayub mengalami serangkaian ujian dari TUHAN, Ayub mengalami pengalaman rohani yang baru dengan TUHAN. Ayub dapat mengakui bahwa TUHAN itu berdaulat diatas segala-galanya. Ayub kehilangan semuanya : kehilangan anak-anak-nya, kekayaannya, hamba-hambanya, reputasinya, dan sahabat-sahabatnya. Namun, tragedi yang begitu mengerikan itu, tidak menimbulkan kemarahan besar baginya kepada TUHAN tetapi Ayub mengutuki hari kelahirannya. Ayub menjatuhkan diri ke tanah, bersujud dan menyembah, katanya, : “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telajang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah TUHAN !” ( Ayub 1:20-21 ).
Kemudian, Allah mengizinkan Iblis menggangu Ayub secara fisik. Ia ditimpa “dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya” ( Ayub 2:7 ). Istrinya menjadi jengkel dan mendorongnya untuk mengutuki Allah dan mati. Ayub menjawab, “ Engkau berbicara seperti perempuan gila ! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ? “Alkitab kemudian mengatakan, “ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya “ ( Ayub 2:10). Sungguh Ayub adalah seseorang yang memiliki iman luar biasa ! Bahkan kematian tidak dapat mengguncang keyakinannya akan Allah. Ayub berkata dengan kepahlawanan iman martirnya :
“Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya” ( Ayub 13:15)
Kalau kita menganggap penderitaan kita tidak berarti seakan-akan tanpa tujuan, maka kita bisa tergoda untuk putus asa. Seorang wanita yang menahan rasa sakit melahirkan mampu melakukan itu karena dia tahu bahwa hasil akhir akan merupakan suatu kehidupan baru.Mereka yang menderita sakit mematikan tidak memiliki harapan yang sama dalam melahirkan anak. Di sini rasa sakit itu kelihatannya menuju kematian dan bukan menuju kehidupan. Namun, itu akan benar jika tidak ada keselamatan. Jika kematian merupakan akhir, maka penderitaan yang memasukinya akan menarik kita ke putusasaan penuh dan tanpa akhir. Pesan Kristus adalah kematian bukan menuju kematian, tetapi menuju kehidupan. Analogi melahirkan berlaku dalam hal ini. Ini dipergunakan untuk melukiskan penderitaan Kristus dan seluruh ciptaan.
“ Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas “ ( Yesaya 53:11 )
Kita mungkin bingung, tapi tidak dalam keputusasaan. Rasa sakit penderitaan sendiri sudah cukup menarik kita untuk putus asa kalau kita tidak diyakinkan akan penyelamatan yang terletak dihadapan kita. Alkitab berulang ulang mengungkapkan perjuangan orang-orang beriman terhadap masalah keputusasaan. Lebih dari satu tokoh Alkitab mengutuk hari kelahirannya dan memohon hak istimewa untuk mati. Musa meratap pada Allah, :
“Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku." ( Bilangan 11 :15 )
Ayub mengutuk hari kelahirannya dengan mengatakan :
“Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan? Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu? Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat” ( Ayub 3:11-13 )
Nabi Yeremia mengungkapkan pergumulan yang sama dia berkata :
“Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku! Terkutuklah orang yang membawa kabar kepada bapaku dengan mengatakan: "Seorang anak laki-laki telah dilahirkan bagimu!" yang membuat dia bersukacita dengan sangat. Terjadilah kepada hari itu seperti kepada kota-kota yang ditunggangbalikkan TUHAN tanpa belas kasihan! Didengarnyalah kiranya teriakan pada waktu pagi dan hiruk-pikuk pada waktu tengah hari! Karena hari itu tidak membunuh aku selagi di kandungan, sehingga ibuku menjadi kuburanku, dan ia mengandung untuk selamanya! Mengapa gerangan aku keluar dari kandungan, melihat kesusahan dan kedukaan, sehingga hari-hariku habis berlalu dalam malu?( Yeremia 20:14-18)
Filsuf Denmark Soren Kierkegaard pernah mengatakan bahwa salah satu tahap yang paling buruk yang bisa dihadapi seorang manusia adalah ingin mati dan tidak dibenarkan mati. Banyak orangtua berkata pada saya, “ Saya mengharap Tuhan mengambilku. Kenapa Dia membuat saya berumur panjang ? “ Keinginan yang mendalam untuk bebas dari penderitaan merupakan inti isu euthanasia, tindakan mematikan untuk mengakhiri penderitaan. Suntikan mematikan dilihat sebagai jenis pembunuhan yang bermakna.
Allah tidak membenarkan kita untuk bunuh diri. Bunuh diri, dalam ungkapannya yang penuh, melibatkan seseorang yang menyerah kepada keputusasaan. Apapun kerumitan bunuh diri yang terlibat dalam penghakiman Allah, kita tahu bahwa bunuh diri tidak diberikan pada kita sebagai pilihan untuk kematian.
Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan, dan sikapi yang saya rasa dapat bermanfaat ketika kita mengalami penderitaan, pencobaan sebagai ujian yang Tuhan berikan kepada kita anak-anak-Nya. Sehingga kita boleh merasakan kekuatan dan penghiburan dari Allah.
Ijinkanlah Allah menjadi Allah dan kita umat gembalaan-Nya adalah ibarat sebongkah tanah liat di tangan sang Penjunan. Dia Tuhan yang berdaulat diatas segala-galanya. Dia berkata “ AKU adalah AKU ”( Keluaran 3:14 ).Siapakah yang pernah menjadi penasehat Tuhan ? Dan siapakah yang dapat mengatur Roh TUHAN ? ( Yesaya 40: 13, Roma 11:34 ) “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu” ( Yesaya 55:8-9 ).Dia akan membentuk hidup kita menurut apa yang baik pada pandangan-Nya. Dan yakinlah bahwa Dia akan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Kadangkala pertanyaan kita kepada-Nya tidak akan kita terima jawabannya ketika kita ada didunia ini. Tetapi jawabannya akan kita dapatkan ketika kita sudah berada di sorga di rumah Bapa yang mulia. ( Coba Baca Wahyu 21:3-4, Wahyu 7:16-17).Dan ingatlah akan kebaikan yang pernah diperbuat-Nya dalam kehidupan kita dan hitunglah berkat-berkat-Nya. Ketika kita mengimani bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik dan sempurna bagi kita, kita akan merasakan sukacita, damai sejahtera dan Tuhan akan memulihkan dan memberkati kita.
Berdoa dan mengucap syukur. Rasul Paulus menganjurkan dan memberikan pesan kepada kita melalui jemaat di Roma. Dia berkata jikalau kamu menderita, ya berdoalah ( Roma 12:12 ) : ”Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! ( Roma 12: 12 ) Rasul Paulus dalam perjalanan Misionarisnya banyak sekali mengalami penderitaan dan ujian yang Allah kehendaki terjadi dalam hidupnya. Sehingga ia memberitahukan bahwa doa dan mengucap syukur adalah kekuatan yang luar biasa yang Allah berikan ketika kita mengalami penderitaan ( kesesakan ). Mengapa ? Karena doa adalah jalan masuk bagi Roh Kudus bagi kita untuk mendoakan semua pergumulan, penderitaan, kesesakan kita kepada Allah. Roh Kudus berdoa bagi kita kepada Allah.( Bdk Roma 8:26-27). “ Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagimu “ ( 1 Tesalonika 5:17-18 ).
Terimalah dengan ikhlas bahwa penderitaan itu sendiri, bagian dari kehendak Allah yang berdaulat untuk menguji kemurnian iman kita. Allah ingin menguji iman kita apakah iman kita emas murni ? Apakah kita layak disebut orang yang beriman ? Karena Alkitab berkata bahwa orang-orang beriman akan mendapat ujian dari Allah. Mungkin ada dosa dan kejahatan yang kita lakukan yang kita sendiri tidak sadar bahwa itu membuat Dia menghajar dan menegur kita. Seorang bapak yang baik adalah apabila anak-anakya berbuat salah, dia akan menghajar, menegur dan mendisiplinkannya. Allah menghajar dan menegur kita anak-anak-Nya adalah karena Dia sangat mengasihi kita ( Wahyu 3:19,Ibrani 12:6 ) Sehingga kita melihat bahwa Allah sedang membersihkan kita dari dosa-dosa tersebut, yaitu dari pencemaran jasmani dan pencemaran rohani. Dan ini merupakan suatu momentum untuk mengevaluasi diri kita di hadapan Allah atas apa yang kita lakukan. Andaikan Anda seorang bapak yang memiliki anak-anak yang suka menceburkan diri ke lumpur kotoran sehingga membuat baju,rumah kena kotoran dari lumpur tersebut, dan Anda sudah menegurnya berulang-ulang tetapi tidak diindahkan. Bagaimana tindakan Anda ? Anda pasti marah dan menghukum anak Anda dan memukulnya dengan cemeti (lidi) sampai dia menangis bukan ? Anda melakukan hal tersebut karena Anda mengasihi anak Anda, karena Anda orangnya pembersih dan tidak suka melihat kotoran dan lumpur pada anak-anak Anda bukan ? Demikianlah juga Allah kepada kita anak-anak-Nya. Abraham bapak orang beriman mendapat ujian dari Allah sebelum Abraham diberkati berlimpah-limpah oleh Allah. Ayub orang beriman mendapat ujian dari Allah sebelum dia diberkati. Dan berkat Allah padanya 2 kali lipat limpahnya dari berkat yang dia terima sebelum dia diuji. Ayub berkata :
“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” ( Ayub 23 :10 )
Yakin dan percayalah bahwa Allah yang kita sembah dan kita kenal di dalam Kristus adalah Allah yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang( Baca Yakobus 5:11 ). Kadang kala kita tidak dapat menerima hal tersebut karena kita sedang marah kepada TUHAN dan mengatakan TUHAN “tidak adil” karena kita mengalami pengkhianatan, penderitaan, penolakan dan kepahitan dalam hidup ini . Bisnis yang kita bangun hancur. Usaha yang kita buat bangkrut. Anak-anak kita jatuh dalam pergaulan sex bebas dan obat-obat terlarang ( narkoba ). Suami kita kena PHK, sakit penyakit yang belum sembuh,ditipu orang dan harta benda dicuri pencuri, dsb. Saudaraku yakinlah bahwa Tuhan itu dapat dipercaya. Dia sendiri yang memproklamasikan Diri-Nya bahwa Dia Tuhan Yang Baik. Dia berkata kepada kita umat gembalaan-Nya : “ Akulah Gembala Yang Baik, Gembala Yang Baik memberikan nyawa-Nya kepada domba-domba-Nya” ( Yohanes 10: 11 ). “ Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya ( Yohanes 15:13 ). Tetapi Iblis datang kepada kita dan memberikan kita pikiran-pikirannya ketika kita mengalami penderitaan, keputusasaan, cobaan dan berkata : “ Lihat katanya Tuhan itu baik, kenapa kau tidak dapat kerja ? Mengapa bisnismu hancur ? Kenapa saudara-saudaramu dan orang tuamu menyingkirkan engkau dan menolakmu ? Kenapa penyakitmu tidak dapat sembuh ? Mengapa kamu tetap miskin sementara orang kafir dan penyembah berhala kaya dan sehat-sehat ? Percuma kamu mengikut Tuhan, Dia bukan Tuhan Yang Baik !..sahut Iblis” Saya pribadi sendiri telah mengalami hal ini ketika saya menderita dan mengasihani diri saya sendiri. Saya mengeluh dan menangis atas penderitaan dan tekanan hidup ( masa-masa sulit dalam hal keuangan dan penyakit jasmani ) yang saya alami. Saya tidak mampu untuk melihat, bahwa Tuhan Yesus lebih besar dari penderitaan dan masalah yang saya hadapi sampai akhirnya suara Tuhan saya dengar untuk mengajak saya ke gereja dan saya taati. Dan di gereja ternyata ada Perjamuan Kudus. Dan setelah mengikuti Perjamuan Kudus, saya merasakan ada kekuatan seolah-olah beban dan penderitaan saya ada yang memikulnya. Untuk melawan kebohongan Iblis itu kita harus memegang Firman Tuhan dan melawannya dengan Firman Tuhan.
Kita mengimani melalui Alkitab bahwa rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Dan Dia akan memberikan kita masa depan yang penuh pengharapan ( Bdk. Yeremia 29:11 ). “ Dan kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah “ ( Roma 8:28 ).Kehendak Allah adalah agar kita sempurna dan utuh, bukan sekedar hidup nyaman tanpa ujian dan pencobaan. Dari pada mengeluh, lebih baik kita bersyukur bahwa di dalam ujian dan pencobaan ada sebuah kesempatan untuk bertumbuh dan mematangkan iman kita. Ada buah-buah yang baik bila kita dapat mempertahankan sikap positif dalam menjalani kehidupan sekalipun di tengah pencobaan dan penderitaan.
Mari kita bersyukur bahwa Allah berjanji untuk senantiasa menyertai kita dan memberi jalan keluar dalam setiap pencobaan ( Bdk Mat 28:20, 1 Kor 10:13 ). Sehingga kita yang telah mendapat pemulihan dan mengalami kesembuhan dari Allah atas penderitaan, ujian, kepahitan dan pengkhianatan dalam hidup ini dapat berkata bersama-sama dengan Rasul Yakobus “ Dia yang memanggil dan memilih aku adalah Tuhan yang Maha Penyayang dan penuh belas kasihan “.
“Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.( Yakobus 5:11)
“Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang “ (1 Tesalonika 1:2-10 )
Sebuah iklan berbunyi : “ Anda kehilangan sukacita ? Teleponlah kami. Kami akan membuat anda bersukacita “. Banyak orang meneleponnya. Memang dalam satu dua hari si penelepon bergembira. Bebannya lepas. Tetapi hari-hari berikutnya ia berpikir : “Jika saya terus berbuat ini, maka biaya telepon membengkak, dan….saya akan bermasalah lagi ? Akhirnya si penelepon kehilangan sukacita. Hatinya semakin resah dan pikirannya kacau. Tidak ada yang dapat memberikan kepadanya sukacita gratis. Mengapa ? Di dunia ini semuanya tidak ada yang gratis, harus dibayar penuh, termasuk sukacita dan kegembiraan. Apalagi, jika kita sedang mengalami masalah. Bagaimana mungkin ada sukacita dalam hati bermasalah ?
Mungkin saja ! Jika tiap orang mau percaya, bahwa Allah adalah Sumber Sukacita, lalu ia menyerahkan seluruh beban hidupnya kepada Allah, sambil mengerjakan pekerjaannya, Allah pasti menganugerahkan kekuatan Roh Kudus, sehingga ia dapat menanggungnya ( Bdk Pil 4:13 ).
Saudaraku, iklan sukacita itu diumumkan malaikat kepada Gembala di Efrata di malam gelap. Sampai saat ini iklan tersebut masih menggema dan barang yang didagangkanpun laku keras. Injil adalah “ KABAR SUKACITA” yang dianugerahkan Allah melalui kedatangan Yesus Kristus. Rasul Paulus menyatakan 2 hal mengenai Injil :
Injil adalah “ kabar baik ( kabar sukacita)” tentang kemuliaan dan rahmat Allah yang inti isi beritanya adalah “ pertobatan,pengampunan dosa dan hidup yang kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus”.Allah telah menyerahkan Yesus karena pelanggaran kita, dan membangkitkan Dia karena pembenaran kita ( Roma 4:25).Dengan demikian Tuhan telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, dan membukakkan kita jalan menuju kehidupan baru (Roma 8:1-4). Karena itu, kita memperoleh pengampunan dosa ( Kol 1:13), kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah ( Roma 5:1), dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah ( Roma 5:2)
Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan ( Roma 1:16). Injil mengandung kekuatan Ilahi. Sebab Injil adalah Firman Allah. Kalau yang berbicara ialah Allah Yang Maha Kuasa, Firman-Nya mempunyai kekuatan. Dengan kata lain Yesus Kristus itu Kekuatan Dan Kuasa Allah yang menyelamatkan siapapun yang percaya kepada-Nya. Firman itu berkumandang lalu terciptalah apa yang sebelumnya tidak ada ( Kej 1:3). Firman yang keluar dari mulut Tuhan Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya ( Yer 23:29, Yes 55:11, Bdk Roma 4:21). Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya ( Yes 40:8). Sebab Tuhan sendiri yang menjamin pelaksanaannya.
Sekarang ini Injil itu masih tetap diiklankan dalam rumusan baru : “Jika anda berada di dalam permasalahan dan kehilangan sukacita, percayalah akan Yesus Kristus dan biarlah Roh-Nya memimpin hidupmu“. Kesukacitaan Kristen itu tidak terletak pada kepandaian manusia mengatasi persoalan, tetapi lebih tergantung pada keberanian untuk percaya kepada Allah serta mengikhlaskan diri kedalam kepemimpinan Roh-Nya.
Shalom Aleichem…
Salam sejahtera..
Perkenalkan nama saya : Orlando I P Ginting, S.T. . Tuhan begitu ajaib berkarya dalam hidup saya. Kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan,rahmat-Nya yang tak habis-habisnya yang selalu baru tiap pagi dan janji-Nya yang teruji memampukan saya mengikut Tuhan hari demi hari dalam suka dan duka, susah dan senang. Dan oleh karena panggilan kasih karunia-Nya melalui blog ini saya rindu ingin mengambil bagian dalam amanah agung Tuhan Yeshua memberitakan “Kabar Baik”(Injil) dengan pengajaran yang berakar ke Ibrani (Judaism) yang merupakan ibu kandung gereja mula-mula ,berbagi berkat serta bersaksi dan menyaksikan perbuatan-perbuatan TUHAN yang ajaib serta kasih-Nya atas kita. Sebagaimana pemazmur berkata : “ Aku tidak akan mati tetapi hidup dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan YAHWEH “
( Mazmur 118:17)...Ijinkanlah saya menyanyikan lagu pujian :
Kemuliaan bagi Elohim Yahweh di tempat Yang Maha Tinggi..
Dan damai sejahtera di bumi..
Diantara manusia yang berkenan kepada-Nya..
Amin.
Barukh HaShem
HalleluYah !...
Alamat e-mail saya :
orlando.ginting@yahoo.co.id
Kata Yesus kepada murid-murid-Nya : "Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Elohim mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?”( Matius 6:28-30)